Selasa, 26 Mei 2009

KELOMPOK BERMAIN AISYIYAH SAMBONGJAYA


Jl. Sambongjaya 103 B Mangkubumi
Kota Tasikmalaya 46181 Tlp. 0265-340402 - 08122060859

Kelompok Bermain Aisyiyah, merupakan wadah Pendidikan Anak Usia Dini dalam upaya menstimulasi, membimbing, mengarahkan dan memberikan kegiatan pembelajaran yang menghasilkan kemampuan dan keterampilan pada anak.
Kelompok Bermain Aisyiyah berada pada jalur Pendidikan Anak Usia Dini Non Formal, berdiri pada tanggal 18 Februari 2007, beralamat di Jl. Sambongjaya no 103 B RT 05 RW 10 Kelurahan Sambongjaya Kecamatan Mangkubumi Kota Tasikmalaya Kode Pos 46181 telephon (0265) 340402. Pengelolanya adalah: Pipih Sopiah sebagai ketua pelaksana; Siti Noor Farida, S.Ag. sebagai sekretaris; dan Rita Roslia, S.Ag. sebagai bendahara.
Secara legalitas, lembaga ini terdaftar di Dinas Pendidikan Kota Tasikmalaya tanggal 9 Juli 2009 M. dengan nomor 421.9/1484.b/diklusp. Pendidik di lembaga kami pada saat ini ada 4 orang dan tenaga kependidikan ada 2 orang yang sebagian besar berlatar belakang pendidikan perguruan tinggi.
Pembelajaran diarahkan pada peletakan dasar pertumbuhan dan perkembangan dengan pendekatan program belajar melalui bermain sehingga memungkinkan anak belajar dalam lingkungan yang menyenangkan, dengan pilihan tema sesuai dengan kurikulum yang diterbitkan DEPDIKNAS, dengan menggunakan alat peraga yang sederhana namun mampu memberikan pembelajaran yang bermakna dan mudah diterima oleh anak.
Kegiatan yang dilakukan didasarkan pada aspek pengembangan moral dan agama, fisik-motorik, bahasa, kognitif, sosio-emosional dan pengembangan seni. Proses pembelajaran dilaksanakan pada hari senin, selasa, rabu dan kamis selama 2 jam yakni pukul 08.00 WIB sampai dengan 10.00 WIB. Program pendidikan diselenggarakan dalam dua kelompok usia, 2-4 tahun dan 5-6 tahun.
Fasilitas yang tersedia di Kelompok Bermain Aisyiyah, adalah: Ruang kelas, Taman bermain, WC, APE luar dan APE dalam.

Sabtu, 13 Desember 2008

RESUME MATERI PEMBAHASAN TARI KOMUNAL

Pendahuluan

Tari komunal adalah segala aktivitas tari yang melibatkan instrumen atau struktur sosial kemasyarakatan baik atas dasar kepentingan bersama dalam komunitas maupun kepentingan individual. Sebagai contoh, dalam peristiwa tari komunal yang ditandai dengan terlibatnya unsur sistem sosial yang telah ada di antaranya adalah dengan Tampilnya pemuka masyarakat sebagai pemimpin.

Ditinjau dari identitasnya secara umum, tari komunal merupakan tarian yang lahir dari semangat kebersamaan sehingga memiliki fungsi sosio-kultural bahkan bisa menjadi salah satu pendukung upacara ritual keagamaan. Dalam praktiknya tari komunal dapat dilaksanakan tanpa keahlian tari secara khusus, karena tarian tersebut tidak terlahir sebagai karya cipta seorang seniman tari.

Oleh sebab itu tari komunal memiliki ciri-ciri utama sbb :

- Diadakan untuk kepentingan komunitas

- Melibatkan sistem sosial yang telah ada

- Merupakan pengabdian sosial dan lingkungan

- Dilaksanakan secara spontan atau terencana

Fenomena bahwa tari komunal bisa saja menjadi suatu kewajiban adat di suatu daerah atau menjadi sebentuk pengabdian sosial dan lingkungan, sehingga dalam hal ini kemahiran tehnik tidak begitu diperlukan dapat kita lihat di Tanah Karo di mana kaum muda-mudi di sana merasa melanggar adat jika tidak terlibat dalam upacara inisiasi Guro-guro Aron.

Aturan yang berlaku dalam tari komunal secara umum tidaklah baku dan bersifat kebiasaan. Namun pada awal abad ke-20 di Jawa Barat tumbuh tradisi pelajaran tari Tayub yang bersifat standar. “Tarian pelajaran” ini kemudian dikenal sebagai Ibing keurseus. (course-Inggris)

Karena ketidakbakuan aturan dalam tari komunal, maka banyak peluang untuk berimprovisasi. Namun improvisasi haruslah dilakukan dengan benar sesuai konteksnya. Karena itu seorang penari tradisi/komunal harus betul-betul memahami ruang sosial budayanya. Sehingga dia tidak menafsirkan improvisasi itu sebagai suatu kebebasan bergerak yang mutlak dan tidak terbatas. Improvisasi pun perlu profesionalisme.

Aspek profesionalisme ini bisa menjadi salah satu hal yang diperhatikan dalam tari komunal. Seperti dalam kasus perkolong-kolong, ketika penari tampil para penonton biasanya menilai aspek-aspek teknis seperti kekayaan gerak tari, keterampilan atau kelenturan tubuh, kekuatan fisik, dan kedalaman kesenimanannya. Sehingga bagi penari perkolong-kolong yang profesional di samping tari komunal ini menjadi media hiburan, baginya akan menjadi media komersil yang bisa diandalkan sebagai mata pencaharian. Dengan komersialisme seperti itu ia akan selalu meningkatkan profesionalitasnya agar bisa bersaing dalam dunianya sebagai penari perkolong-kolong.

Macam-macam Pelaku Tari Komunal

Dengan dilatarbelakangi adat kebiasaan, atau norma-norma yang berlaku di suatu daerah, dan juga bentuk dari tariannya sendiri, pelaku tari komunal bisa bermacam-macam.

Sebagai contoh ada tari komunal yang dibatasi hanya boleh dilakukan oleh gadis-gadis yang belum menginjak fase menstruasi. Hal ini sebagaimana yang berlaku dalam sebuah tarian dari Bali yaitu tari Sanghyang Dedari. Ada juga yang hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang punya kekuatan magis seperti pada tari komunal Dabuih dari Sumatra Barat. Atau tari Seblang dari Banyuwangi yang perlu didampingi oleh seorang berkemampuan khusus.

Atau untuk tarian yang dilakukan oleh orang banyak ada norma-norma yang membatasi interaksi antara laki-laki dan perempuan seperti pada tari Saman di Aceh. Ada juga tari Baris Gede di Bali atau tari Perang di Nias yang hanya dilakukan oleh kaum laki-laki. Bahkan ada juga yang harus dilakukan oleh waria seperti dalam tari Bissu dari Bugis yang dilatarbelakangi oleh tradisi trasvestite-nya (laki-laki yang berperan sebagai perempuan).

Kelahiran dan Perkembangan Tari Komunal

Pada umumnya kelahiran suatu tari komunal dimaksudkan untuk tujuan ritual / upacara tertentu. Seperti tari Tortor dari Batak, atau tari Hudoq dari Dayak. Namun dalam perkembangannya ada juga yang lahir sebagai reaksi terhadap kondisi tertentu seperti tari Rudat di beberapa daerah di Jawa yang lahir dari lingkungan mesjid atau pesantren sebagai reaksi terhadap kehadiran kolonialis Belanda.

Di beberapa daerah ada sejenis tari komunal yang beralih fungsi dari media upacara adat menjadi media hiburan. Tari ini memposisikan penari perempuan sebagai penghibur. Namun di Bayuwangi ada juga tarian sejenis yang masih dilestarikan sebagai upacara adat. Tarian tersebut adalah Tari Gandrung.

Dan pada umumnya saat ini telah banyak tari komunal yang beralih fungsi menjadi media hiburan ketika tarian ini ditampilkan dalam acara-acara seperti pernikahan, perpisahan, kenaikan kelas, khitanan dan sebagainya. Atau ketika tari komunal dari daerah tertentu ditampilkan di daerah lain yang berbeda latar belakang budayanya.

Dan manakala tarian dipandang sebagai karya seni pertunjukan atau tontonan semata, maka diperlukan bakat, intensitas, dan keseriusan berlatih secara khusus.

Istilah-istilah untuk menunjuk makna Tari dan Penari

- Igel atau Solah di Bali, penarinya disebut Pragina.

- Dalang yang bagi masyarakat Cirebon berarti penari

- Joget, taya, beksa yang berarti tari di Jawa Tengah

- Jaga yang berarti tari di masyarakat Bugis.

- Dance / dansa dari bahasa Inggris

Elemen-elemen Utama Tari

- Tubuh

Sebagai salah satu elemen utama dalam tari, tubuh mempunyai substansi utama yaitu gerakannya. Karena tarian adalah salah satu cabang seni yang mengandalkan keindahan gerak. Dalam melihat unsur tubuh sebagai medium tari, ada bagian yang kasat mata ada juga yang tidak kasat mata seperti otot dan darah.

- Ruang (Ruang positif dan Ruang Negatif)

- Imaji Dinamis

Di dalam tari, aspek-aspek ruang yang menimbulkan imaji dinamis bisa dilihat dari hal-hal berikut ini :

- Dari ketinggian atau level gerakan penari

- Dari arah hadap atau arah pandang penari

- Dari volume atau ukuran ruang gerak

- Dari arah gerakan penari

Dan dinamika dalam tari tidak selalu tercipta karena bergerak-geraknya si penari, hal ini terbukti dalam tari Pakarena dari Sulawesi Selatan.

- Energi (tenaga/kekuatan/stamina dalam menari)

- Waktu (menyangkut durasi, irama, dan tempo tarian)

Karakter-karakter dalam Tarian

- Serius / khidmat

- Riang dan Komikal

- Kombinasi Serius, Riang dan Komikal

Tempat Pertunjukan Tari

- Menetap : seperti tari kecak, saman, dsb.

- Berpindah : seperti tari barong pengamen.

Bergerak : seperti pawai, ondel-ondel, ogoh-ogoh, dsb.

RESUME MATERI PEMBAHASAN ALAT MUSIK DAWAI

Pengantar Alat Musik Dawai

Alat musik dawai merupakan salah satu jenis alat musik yang terdapat di hampir seluruh penjuru dunia. Dalam pengelompokan menurut Kurt Sach dan Von Hornbostel alat musik dawai dikenal dengan istilah Kordofon (chord = tali/senar/dawai) artinya alat musik yang sumber bunyinya berasal dari getaran dawai.

Alat musik ini bentuknya beraneka ragam di setiap daerah dengan namanya masing-masing. Terkadang ada kesamaan bentuk tapi namanya berbeda seperti alat musik Al-’Ud dari Arab yang bentuknya mirip dengan alat musik Gambus dari Palembang. Atau alat musik Hitek di Flores yang bentuknya mirip dengan Keteng-keteng dari Karo.

Atau dari segi penamaan banyak kemiripan meskipun bentuknya berbeda. Seperti alat musik hasapi, kulcapi, dan husapi di Sumut, sape dan sampeq di Kalimantan, kacapi di Sunda, kacaping dan katapi di Sulawesi, dan sebagainya. Bahkan di negeri Persia terdapat alat musik dutar dan sehtar. Keduanya sama-sama alat musik dawai. Perbedaannya yang paling utama terletak pada jumlah dawainya (du = dua dan seh = empat). Keduanya juga dilihat dari namanya ada hubungan dengan nama alat musik seperti guitar, gitar, siter, atau alat musik di Italia pada abad ke-19 yang disebut chittara.

Alat musik dawai banyak digunakan dalam aktivitas-aktivitas budaya di berbagai lingkungan masyarakat di seluruh dunia, baik dalam budaya tradisional maupun modern. Seperti di masyarakat Jepang ada sebuah tarian yang disebut “Azuma Asobi” yang dilakukan dalam sebuah upacara adat. Tarian ini biasa diiringi alat musik dawai siter wagon yang juga disebut Yamato-goto. Atau di Nusantara ada alat musik engkratong yang merupakan salah satu jenis alat musik dawai bersejarah yang pernah dipakai masyarakat Murut dan Iban yang berada di pulau Kalimantan.

Penyebaran alat musik dawai juga tidak bisa dipisahkan dari kaitannya dengan aktivitas keagamaan dan penyebarannya. Seperti kalau kita mendengar alat musik gambus maka alat itu lebih dekat jika diasosiasikan dengan misi Islam. Berbeda dengan organ yang lebih dekat jika dikaitkan dengan gereja / Kristen.

Akustika Alat Musik Dawai

Alat musik dawai sebagaimana alat musik lainnya terutama dalam proses pembentukan suara memiliki hubungan erat dengan ilmu akustika. Dalam dunia musik, ilmu akustika berkaitan erat dengan bagaimana merancang dan menyusun struktur alat musik, cara memainkannya dan cara memanipulasi suara dengan tehnik-tehnik tertentu.

Di dalam proses pembentukan suara alat musik dawai, dikenal juga proses amplifikasi. Proses amplifikasi merupakan proses penguatan bunyi dengan tehnik atau alat tertentu. Ada amplifikasi dengan tehnik resonansi di mana pada alat musik dawai, ketika dawai bergetar ada benda lain (resonator) yang juga ikut bergetar sehingga energi bunyi yang dihasilkan lebih kuat dan lebih keras terdengan oleh indera pendengar manusia. Di samping itu ada juga amplifikasi yang menggunakan alat listrik seperti amplifier.

Resonator pada alat musik dawai pada umumnya berupa rongga udara yang terdapat pada badan alat musik dawai. Perhatikan alat musik seperti gitar, biola, kecapi dan sebagainya yang masing-masing memiliki rongga udara dengan bentuknya masing-masing. Ada juga alat musik dawai yang resonatornya berupa rongga mulut seperti ”busur musikal” dari Afrika atau Brazil.

Keterangan :

A = Dawai / Senar B = Jembatan / Bridge C = Papan Resonator D = Busur


Bila dawai (A) dipetik maka akan bergetar, getaran itu kemudian merambat melalui jembatan suara (B) menuju ke papan resonator (C) sehingga ia ikut bergetar dan menambah kerasnya bunyi yang dihasilkan. Tapi bunyi yang dihasilkan tidak akan keras lagi jika busur (D) diangkat karena yang bergetar tinggal dawai itu sendiri dan busurnya.

Jembatan Suara (bridge)

Dalam alat musik dawai, jembatan suara ini berperan penting dalam merambatkan getaran dawai menuju resonator. Secara umum semua alat musik dawai memiliki jembatan suara, kecuali pada alat Busur Dawai dari Afrika / Brazil yang resonatornya menggunakan rongga mulut.

Ada beberapa istilah untuk menyebut jembatan suara ini, di antaranya : kuda-kuda, tumpang sari, inang, (di daerah Sunda) srenten (di Jawa), dan sebagainya.

Bahan baku, bentuk, dan ukuran jembatan suara ini pun bervariasi. Pada umumnya jembatan suara dibuat tipis atau runcing pada bagian yang bersentuhan dengan dawai agar suara yang dihasilkan lebih jelas dan mulus, tapi ada juga beberapa alat musik dawai seperti dari India yang pada bagian itu dibuat lebar, baik pipih maupun cembung. Hal ini dimaksud kan untuk memunculkan nada harmonik yang berasal dari gesekan friksi antara dawai dan jembatannya.

Dalam alat-alat musik dawai yang pada setiap senarnya ketika dimainkan bisa dilakukan perubahan nada, fungsi jembatan ini diperankan juga oleh batas-batas pemisah nada pada papan jari yang dikenal dengan istilah fret. Beberapa instrumen dawai ada yang memiliki fret (fretted) seperti pada gitar ada juga yang tidak memiliki fret (unfretted/fretless) seperti pada biola, cello, dsb. Instrumen dawai yang memiliki fret menghasilkan bunyi yang stabil dan akurat. Berbeda dengan yang fretless di mana bunyinya lebih fleksibel dan berayun, bergantung pada ketajaman sense of tone pemain musiknya.

Fisika Bunyi pada Alat Musik Dawai

Untuk mempelajari proses pembentukan bunyi pada alat musik dawai kita perlu mengingat kembali pelajaran IPA di SMP tentang Fisika Bunyi. Ada beberapa prinsip utama dalam fisika bunyi di antaranya yang berkaitan dengan pembentukan gelombang. Busur Dawai bisa dijadikan media paling sederhana dalam mempelajari tentang pembentukan gelombang ini.








Di dalam fisika bunyi ini berlaku prinsip-prinsip sebagai berikut :

- Keras dan lemahnya bunyi ditentukan oleh lebar getaran (amplitudo)

- Tinggi rendahnya nada ditentukan oleh frekuensi (jumlah getaran per detik)

- Pada alat musik dawai amplitudo ditentukan oleh keras-lemahnya petikan pada dawai, sementara frekuensinya ditentukan oleh panjang-pendeknya dawai dan besar-kecilnya ukuran diameter dawai.

Bahan baku dawai juga berpengaruh pada frekuensi meskipun tidak begitu besar. Hanya yang pasti perbedaan bahan baku ini sangat berpengaruh pada aspek warna suara (Timbre) yang dihasilkan. Suara dawai yang terbuat dari baja, timbre-nya akan berbeda dengan dawai yang terbuat dari nilon meskipun frekuensi yang dibunyikan sama. Hal ini sama halnya dengan perbedaan warna suara (timbre) pada alat-alat musik seperti piano, gitar, biola, terompet, seruling dan sebagainya pada saat alat-alat musik itu membunyikan nada yang sama.









Klasifikasi Alat Musik Dawai

Dalam dunia musik dikenal berbagai macam pengelompokan alat musik. Pengelompokan ini didasarkan pada bervariasinya aspek yang dijadikan dasar pengelompokan. Ada yang mengelompokkan berdasarkan bentuk, bahan baku, sumber bunyi dsb. Seperti dalam tradisi musik klasik Barat dikenal klasifikasi alat musik stringed instruments (instrumen berdawai), percussion

instruments (instrumen ritmis), dan wind instruments (instrumen tiup).

Pengelompokan yang cukup terkenal adalah pengelompokan yang dilakukan oleh Kurt Sach dan Von Hornbostel yang mengelompokkan alat musik berdasarkan sumber bunyinya sebagai berikut :

1. Chordophone = dari getaran dawai (chord)

2. Membranophone = dari getaran selaput kulit / plastik

3. Aerophone = dari getaran udara

4. Idiophone = dari getaran badan alat itu sendiri

5. Elektrophone = dari energi listrik.

Di samping kelima kelompok di atas, untuk beberapa kasus seperti alat musik hitek dari Flores atau Keteng-keteng dari Karo, kedua alat musik ini merupakan kombinasi dari dua klasifikasi yaitu Idiophone dan Chordophone. Sehingga muncul istilah Idiochord karena alat musik ini sumber bunyinya adalah getaran dawai yang mana dawai itu sendiri berasal dari badan alat musik itu.

Kurt Sach dan Von Hornbostel pun mengelompokan alat musik dawai (chordophone) berdasarkan karakteristik bentuknya menjadi 5 (lima) kelompok yaitu :

1. Kelompok Busur

2. Kelompok Lira

3. Kelompok Harpa

4. Kelompok Lut

5. Kelompok Siter

Jenis busur pada umumnya ditandai dengan kedua ujung dawai yang diikatkan pada kedua titik ujung penyanggah. Akibat tarikan dari regangan dawai, kedua ujung penyanggah yang lentur membentuk lengkungan busur.

Jenis lira dan harpa, pada prinsipnya ditandai hubungan antara posisi dawai dan kotak suaranya. Untuk jenis lira posisi dawai sejajar dengan sebagian permukaan kotak suaranya. Adapun untuk jenis harpa posisi dawai tegak lurus terhadap kotak suara.

Jenis lut dan siter, pada prinsipnya ditandai dengan sama-sama memiliki kotak suara dan posisi dawai yang sepenuhnya sejajar dengan permukaan kotak suara. Perbedaannya kalau jenis lut memiliki leher (neck) yang berfungsi sebagai papan jari (finger board) atau penyangga dawai (string bearer), sementara jenis siter tidak memiliki leher.

Karakteristik alat musik dawai secara umum bisa digolongkan pada salah satu dari lima kelompok di atas. Kecuali untuk alat musik Kora dari Afrika yang karakteristik bentuknya bisa masuk jenis harpa dan bisa juga masuk jenis lut. Oleh sebab itu alat musik ini dikenal juga sebagai alat musik harp-lut.

Jumlah Senar pada Alat Musik Dawai

Alat Musik Dawai Dunia

Nama Alat Musik

Jumlah Dawai

Dan Bao Vietnam

1 buah

Shamisen Jepang

3 buah

Sehtar Persia

4 buah

Sitar India

6, 7, 13 buah

Kora Afrika

21 buah

Alat Musik Dawai Nusantara

Nama Alat Musik

Jumlah Dawai

Hasapi Toba, Kulcapi Karo,

2 buah

Rebab Jawa / Sunda

2 buah

Gambus Melayu

7 buah

Kecapi Sunda

15 – 18 buah

Sasando NTT

9, 10, 11, 24, 48 buah

Di samping jumlah dawai yang bervariasi, karakteristik lain dari alat musik dawai adalah dalam hal kombinasi dawainya. Ada yang dawai tunggal seperti pada kecapi, dawai ganda seperti pada gambus dan al-'Ud, ada juga dawai tripel seperti pada piano dan saz dari Turki.

Dalam alat musik dawai pun dikenal adanya dawai simpatetik yaitu dawai yang sengaja dipasang tidak untuk digetarkan secara langsung tetapi akan ikut bergetar ketika dawai utama dibunyikan. Alat musik berdawai simpatetik ini contohnya seperti Sitar dari India

Selanjutnya berkaitan dengan nada-nada yang dihasilkan dalam alat musik dawai, nada tersebut pada umumnya merupakan nada yang bunyinya paling kuat (fundamental). Sementara nada-nada lain yang bunyinya lebih lemah disebut dengan anak suara atau nada harmonik.

Dalam alat musik dawai tertentu seperti Tanpura dari India, dikenal juga nada drone, yaitu nada yang dibunyikan secara terus-menerus dan dipertahankan sampai lama, baik hanya satu nada maupun beberapa nada.

Pelarasan pada Alat Musik Dawai

Pelarasan merupakan satu cara untuk mengatur bagaimana nada-nada dalam alat musik ditentukan / distel susunannya. Istilah lain untuk pelarasan adalah "penyeteman" seperti yang biasa dilakukan pada gitar.

Pada alat musik dawai pelarasan ini bisa dilakukan dengan mengatur ketegangan dawai melalui bagian pengatur pelarasannya seperti jembatan suara atau kupingan (tunning pegs). Seperti pada gitar dilakukan dengan memutar-mutar bagian kupingannya, pada kecapi dengan menggeser-geser tumpang sari-nya di samping memutar-mutar tunning pegsnya. Atau pada alat musik Kora yang dilakukan dengan cara menggeser-geser tali pengikat dawainya.

Dengan pelarasan ini maka alat musik dawai dapat dimainkan sesuai dengan karakteristik harmoni tangga nada alat tersebut.

SB.........SB.. kacian de loe !!!!

Rabu, 11 Juni 2008

RESUME MATERI KALIGRAFI

Tujuan dasar dari penciptaan tulisan adalah untuk mewujudkan bahasa secara visual untuk menyampaikan informasi bagi diri kita sendiri atau orang lain. Kaligrafi mencakup dua unsur utama yaitu unsur tulisan yang mengutamakan prinsip keterbacaan dan unsur estetika / seni yang mengutamakan prinsip-prinsip proporsi, komposisi, keseimbangan dan ekspresi.

Dalam dunia tulisan dikenal istilah grafem yaitu suatu simbol yang digunakan dalam suatu sistem tulisan. Simbol ini bermacam-macam seperti Huruf, angka, titik, koma, atau Fathah, kasrah, dlommah, sukun dalam bahasa Arab, atau “karakter” dalam tulisan Tionghoa, atau “curek” dan “pamaeh” dalam aksara Sunda

Sistem tulisan ada beberapa jenis :

1. Sistem logografis yaitu sistem yang memfungsikan grafem untuk menandai satu kata seluruhnya seperti tulisan kanji yang dipakai di Tiongkok (cina)

2. Sistem silabis yaitu sistem yang yang memfungsikan grafem untuk menandai suku kata

3. Sistem Alfabetis yaitu sistem yang memfungsikan grafem untuk menandai bunyi yang terdapat dalam suatu kata seperti yang digunaan dalam tulisan Latin.

4. Sistem Campuran

Semua sistem tulisan yang ada di dunia sifatnya terbatas, oleh sebab itu para ahli bahasa menciptakan suatu sistem tulisan yang disebut International Phonetic Alphabet (IPA) untuk kepentingan menganalisa beraneka ragam sistem tulisan yang terbatas itu.

Salah satu contoh keterbatasan tersebut adalah suatu kenyataan bahwa sebuah sistem tulisan biasanya diperuntukkan bagi orang yang sudah memahami bahasanya (native speaker). Bagi English native speaker misalnya grafem ganda terkadang dibaca tidak seperti adanya grafem tersebut, tergantung konteks katanya. Dalam kata night dan through grafem ini malah hilang dari ucapan, dalam kata ghost yang terdengar hanya , dalam kata enough jadi dan seterusnya.

Sistem tulisan mempunyai sejarah perkembangan yang cukup panjang dan sepertinya memiliki keterkaitan satu sama lain. Di Mesir ada tulisan kuno hieroglif, tulisan Arab Hijaiyah dulunya berkembang dari sistem tulisan Aramaik, Bangsa Yunani pun mengembangkan sistem tulisan Phoenicia menjadi tulisan Latin yang kita kenal saat ini, dan seterusnya sistem tulisan Phoenicia inipun digunakan oleh orang-orang Roma (Italia), Euboea, Etruria, dan bangsa Eropa lainnya.




Tradisi baca-tulis di kalangan bangsa Arab pra-Islam pada umumnya baru tersebar di kalangan tertentu khususnya di kalasngan rahib-rahib Nasrani. Pada masa Islam sistem tulisan Arab ini mengalami perkembangan penyempurnaan seperti apa yang telah dilakukan oleh Imam Abu al-Aswad Ad-Dualy yang telah memberikan tanda titik untuk beberapa grafem yang memiliki kesamaan bentuk sehingga tidak lagi membingungkan.

Sistem tulisan Arab pada masa Islam ini memiliki peran penting dalam proses dakwah Islam. Di samping karena Islam sendiri memang sangat berperan dalam memicu perubahan budaya bangsa Arab, pada Abad ke-13 telah berkembang suatu pandangan bahwa agama dalam hal ini Islam telah mendasari semangat perkembangan IPTEK. Hal ini bisa dibuktikan dengan turunnya wahyu pertama yang diterima oleh Nabi Muhammad SAW yang telah membuka kesadaran pentingnya budaya baca-tulis sebagai titik awal perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Seiring perkembangan sistem tulisan Arab, berkembang juga berbagai jenis khat (tulisan) kaligrafi Arab. Fleksibilitas sistem tulisan Arab telah menjadikannya mudah beradaptasi dengan beraneka budaya yang dihampirinya. Hal ini terbukti dengan lahirnya jenis-jenis kaligrafi Arab di beberapa daera seperti di Irak muncul Kaligrafi Bagdadi, di Spanyol muncul Kaligrafi Andalusi, di Persia muncul Kaligrafi Farisi atau di Kufah muncul Kaligrafi Kufi, dengan bentuk yang mempunyai keunikan sendiri-sendiri.

Dalam khazanah ajaran Islam ada sebuah hadis riwayat Said ibnu Hasan tentang larangan menggambar makhluk bernyawa. Hadis itu memang difahami dengan berbagai pendekatan. Ada yang menafsirkan secara kontekstual bahwa Larangan tersebut berlaku pada masa-masa awal pembinaan aqidah umat Islam, ada yang menafsirkan bahwa semua gambar makhluk bernyawa dilarang, ada yang menafsirkan Boleh menggambar makhluk bernyawa tapi tidak utuh, dan beberapa penafsiran lainnya. Sehingga dalam kondisi seperti itu muncul juga kreatifitas para seniman kaligrafi yang di antaranya mereka membuat karya-karya kaligrafi dengan bentuk dasar makhluk hidup seperti burung, kuda, manusia, harimau, dsb.

TULISAN DI RUANG PUBLIK

Seiring perkembangan teknologi, baik tulisan maupun kaligrafi pun ikut berkembang dengan dukungan berbagai media yang dihasilkan perkembangan teknologi. Dengan ditemukannya mesin cetak oleh Johan Gutenberg, maka tulisan yang tadinya hanya berupa karya tunggal dengan proses kreatif yang panjang menjadi karya yang bisa diproduksi secara massal dengan proses mekanik yang relatif lebih cepat. Apalagi dengan adanya media kertas hasil penemuan bangsa Tiongkok (cina) pada tahun 105 M yang kemudian dikembangkan secara besar-besaran oleh Khalifah Harun Al-Rasyid pada abad ke-8, tulisan dan cetakan semakin berkembang mengantarkan sambil mencatat sejarah peradaban manusia.

Produk cetakan seperti sampul buku atau majalah dalam proses pembuatannya melibatkan berbagai macam keterampilan, terutama pada bidang-bidang seperti Tipografi, Fotografi, Desain grafis, dan Ilustrasi. Apalagi dengan adanya komputer sebagai salah satu produk hasil perkembangan teknologi dapat memungkinkan kita mengerjakan proses penerbitan suatu karya tulis atau desain grafis sendiri. Hal ini disebabkan karena dalam komputer dikembangkan sebuah sistem yang dikenal dengan istilah Desktop Publishing System. Dengan melalui media komputer juga orang bisa membuat desain huruf sendiri, sehingga kalau kita masih ingat film Batman Forever maka kita akan menemukan ada jenis font khusus yang digunakan dalam film tersebut yang sedemikian familiar jika kita melihatnya. Ciri khas seperti itu tentunya tidak terlepas dari seniman yang merancangnya yaitu : Maseeh Rafani dan Mark van Bronkhorst.

Dalam dunia tipografi yang mempelajari berbagai rancangan tipe-tipe tulisan, secara umum ada dua bentuk aksara berdasarkan pada bentuk ujung-ujung dari badan huruf. Kedua bentuk tersebut adalah : kelompok serif dan kelompok san-serif. Berbagai macam bentuk aksara masing-masing memiliki Rasa Bentuk Aksara sendiri-sendiri. Hal ini sebagai konsekuensi logis dari adanya prinsip-prinsip dasar yang berlaku dalam unsur-unsur seni rupa sendiri yaitu garis, bidang, dan warna yang di sisi lain melekat juga pada aksara. Sebagai contoh, garis lurus cenderung membawa rasa tegas dan pasti, garis bergelombang memberikan kesan rasa berlagu atau berlenggok, garis bergerigi membawa kesan rasa tidak stabil, gagap, gelisah, dan sebagainya.

Tulisan di ruang publik ternyata tidak semuanya berfungsi sebagai media untuk menyampaikan informasi. Hal ini dapat kita amati dari berbagai macam tulisan yang terdapat pada isim atau rajah. Tulisan dalam benda-benda tersebut memang hanya ditulis saja tanpa perlu dipikirkan apa terbaca atau tidak, bahkan ada yang selanjutnya hanya dibungkus dengan kain hitam lalu dijadikan kalung dsb.

Kaligrafi memiliki ciri yang paling mendasar yaitu bahwasanya aksara menjadi objek untuk dieksplorasi sebagai unsur estetis. Seperti halnya dalam seni rupa, seni kaligrafi juga dipengaruhi oleh adanya aliran-aliran seperti Kubisme, Dadaisme, Lettrisme, dll.

Dadaisme merupakan gerakan dalam kesenian, baik dalam seni sastra, seni rupa, maupun teater yang dalam manifestasinya menentang kaidah-kaidah estetika yang sudah mapan / standar.

Di Indonesia banyak para seniman lukis yang karya-karyanya tidak sedikit yang terinspirasi oleh seni kaligrafi Arab. Mereka di antaranya adalah Abay D. Subarna, Ahmad Sadali, A. D. Pirous, dan Amri Yahya.


Halaman Rujukan pada buku KALIGRAFI

3

5

7

8

9

14

19

21

22

31

56

57

58

60

67

70

75

120

122

123

129

131

132

134

137

138

146

148

158

176

Minggu, 01 Juni 2008

RESUME MATERI TOPENG

RESUME MATERI TOPENG

Sebagai produk budaya yang terdapat hampir di semua belahan dunia, topeng memiliki sebutan atau istilah tertentu di daerahnya masing-masing, seperti di daerah Dayak yang biasa disebut dengan istilah : Hudoq

Budaya topeng menjadi salah satu media pencatat sejarah kebudayaan umat manusia sepanjang jaman. Hal ini disebabkan hal-hal berikut ini :

1. Banyaknya penemuan arkeologis berupa topeng

2. Dari bentuk dan karakter topeng dapat dilacak tradisi yang berkembang di suatu daerah

3. Perkembangan teknologi di suatu daerah dapat dilacak dari bahan pembuatan topeng

4. Keanekaragaman bentuk topeng mencerminkan keanekaragaman budaya yang berkembang

Di antara aktifitas-aktifitas seni budaya berikut ini, yang mempergunakan jenis topeng besar adalah :

1. Kesenian ondel-ondel dari Betawi

2. Kesenian Barongsai dari Cina

3. Kesenian Reyog dari Ponorogo

4. Kesenian Sisingaan dari Subang

Di antara pernyataan-pernyataan berikut ini yang erat kaitannya dengan perwujudan fisik topeng adalah : Pada umumnya topeng mencerminkan muka/wajah

Dengan memperhatikan unsur-unsur muka dalam topeng, maka di antara benda-benda berikut, yang termasuk kategori topeng hanya ketika benda itu dikenakan / dipakai adalah : Kain masker

Di antara hal-hal berikut ini yang tidak mendasari pemilihan bahan untuk pembuatan topeng adalah :

1. Tradisi, kepercayaan, atau sejarah yang panjang

2. Keinginan atau gagasan pembuat topeng

3. Ketersediaan bahan yang ada

4. Daya tahan bahan sesuai peruntukan topengnya.

Berdasarkan fungsi dan kebutuhan pemakaiannya, ada topeng yang dibuat untuk waktu yang relatif singkat seperti topeng yang dibuat dari bahan : Dedaunan

Bila ada topeng emas yang dibuat oleh sekelompok masyarakat, besar kemungkinan bahwa :

Masyarakat tersebut telah mengenal teknologi pengolahan emas

Meskipun masyarakat Bali telah mengenal bahan pewarna sintetis seperti cat minyak, akan tetapi mereka lebih memilih bahan pewarna hasil teknologi tradisional. Ini menandakan bahwa mereka masih sangat memperhatikan aspek : Idiom atau estetika

Dalam teknologi pewarnaan tradisional dikenal sejenis cairan yang dibuat dari bahan organik tulang ikan. Bahan ini dikenal dengan istilah : ancur

Warna putih dapat dibuat secara tradisional dari bahan : Tulang binatang

Yang menjadi alasan mengapa kayu menjadi bahan topeng yang paling umum dipakai adalah :

1. Termasuk bahan yang mudah didapat

2. Termasuk bahan yang mudah diproses (diukir)

3. Topeng kayu relatif ringan

4. Kayu termasuk bahan yang relatif murah harganya

Jenis kayu yang tidak cocok untuk membuat topeng dengan motif ukiran yang rumit di bawah ini adalah : Kayu Randu

Pengerjaan topeng kayu pada tahap awal menggunakan salah satu di antara peralatan berikut : Kapak & gergaji

Di antara pernyataan-pernyataan berikut, yang menjadi alasan utama secara estetis mengapa bagian dalam topeng ada yang dilukis seindah bagian luarnya adalah :

Keindahan topeng tidak hanya penting bagi penonton

Pada umumnya topeng dari logam tidak mengalami proses pewarnaan. Hal ini disebabkan karena :

Logam telah mempunyai karakter warna yang khas terutama setelah proses penggosokan

Topeng yang hampir tidak mengalami proses pengkaratan dan pelapukan sehingga dapat bertahan sampai ribuan tahun, pada umumnya terbuat dari bahan : Tanah liat

Di Italia terdapat tradisi topeng yang disebut commedia dell ‘arte. Topeng tersebut memiliki karakteristik bahan dan bentuk muka sebagai berikut : Kulit, setengah muka

Dengan melihat teksturnya, topeng di atas merupakan topeng yang dibuat dari bahan : Kapuk / kapas

Urutan yang tepat dalam tahap-tahap pembuatan topeng kertas di bawah ini adalah :

Membuat desain – membuat model – menempel kertas – mewarnai.

Dalam tahap penempelan bahan pada proses pembuatan topeng kertas sebaiknya digunakan warna kertas yang berbeda untuk setiap lapisan. Hal ini dimaksudkan agar :

Mempermudah pengaturan ketebalan permukaan topeng

Pemakaian bahan bubur kertas dalam proses pembuatan topeng kertas dimaksudkan terutama untuk : Menciptakan tekstur khusus

Topeng dari buah labu (pumpkin) yang dikosongkan isinya, biasa dibuat oleh orang Amerika dalam perayaan : Halloween day

Sirih, pinang dan kapur, apabila dilumatkan jadi satu dalam sedikit air akan menghasilkan warna : Merah

Bila penari topeng harus memilih salah satu di antara beberapa kriteria topeng, maka untuk kebutuhan tariannya dia akan cenderung memilih : Topeng yang ekspresinya baik

Meskipun pak Wondo seorang petani ia sering juga diminta oleh beberapa seniman tari untuk membuatkan topeng bagi mereka, karena topeng hasil karyanya memang berkualitas baik. Dalam konteks kultural pak Wondo termasuk seniman : Generalis

Pak Wondo seperti dijelaskan di atas termasuk seniman yang profesional, sebab :

Karyanya memenuhi kriteria kualitas artistik dan keselarasan fungsional.

Dunia pariwisata memiliki andil besar dalam mendukung perkembangan karya seni secara ekonomis, tetapi hal ini secara umum dapat membentuk karakter apresiasi seni yang “dangkal”. Hal ini bisa jadi disebabkan oleh beberapa faktor seperti tujuan utama wisatawan hanya untuk rekreasi, waktu kunjungan yang relatif singkat, karya seni dihasilkan untuk memenuhi tuntutan pasar. Meskipun demikian, ada juga beberapa wisatawan yang tertarik mendalami kualitas substansi atau originalitas karya seni.

Beberapa permasalahan mendasar berkaitan dengan upaya pendekatan konteks dalam memahami nilai dan makna topeng adalah :

1. Aspek fungsi karya seni topeng

2. Aspek praktik yang mencakup pengaturan waktu dan tempat penggunaan karya topeng

3. Aspek hubungan antara kesenian, seniman, penyelenggara, dan penontonnya

Lingkup budaya yang melingkungi manusia sejak lahir terdiri dari lingkup material, fisik, dan spiritual. Yang termasuk dalam lingkup budaya fisik di bawah ini adalah :

Etika duduk dan berjalan

Karya seni tradisional berkaitan erat dngan nilai sosio-kultural dan nilai personal. Yang termasuk nilai-nilai personal di antara pilihan-pilihan berikut adalah : Interpretasi masyarakat

Aktifitas seni tradisi yang biasa dilaksanakan untuk kepentingan komunal di antaranya adalah :Tari Topeng dalam acara ngarot di Indramayu

Sedangkan untuk kepentingan individual di antaranya :

Musik degung dalam acara pernikahan, Pagelaran Sisingaan dalam acara khitanan, Tari Topeng dalam upacara ngaben di Bali, Musik kasidahan pada acara syukuran naik haji

Cara pandang terhadap suatu bentuk pagelaran kesenian dapat dilakukan melalui sisi sifatnya yang sekular atau sakral. Yang termasuk contoh pagelaran kesenian yang bersifat sekular di bawah ini adalah : Topeng pajegan sebagai kesenian balih-balihan

Dalam pagelaran topeng pajegan pada upacara pendeta, topeng difungsikan sebagai : Media upacara

Panggung prosenium dan panggung arena adalah dua jenis panggung yang dibedakan berdasarkan :

Letak panggung dan arah hadap penontonnya

Gambar di atas adalah salah satu bentuk pertunjukan seni topeng di Sumatra Barat yang dilakukan sambil meminta sumbangan sukarela dari masyarakat. Pertunjukan tersebut dikenal dengan nama : Cimuntu

“Kita semua hidup dengan banyak topeng yang dipakai bergantian sesuai dengan situasinya”. Istilah topeng dalam ungkapan tersebut ditafsirkan sebagai metafor dari Sikap, Penampilan, Tatakrama, Adab / sopan santun yang biasa diterapkan seseorang.

Kesenian topeng berkaitan erat dengan aspek penyembunyian dan penampakan. Pengalaman dan hasrat manusia terhadap kedua aspek tersebut telah dimulai sejak awal kehidupan yang salah satunya dapat dilihat dalam permainan “ciluk ba”. Permainan ini melibatkan perasaan-perasaan kehilangan, penasaran, terkejut, senang, dan ceria.

Penari Topeng harus bisa menghidupkan topeng yang akan ditarikannya. Terutama jika topeng yang dipakai sudah ada sebelumnya. Namun jika penari sudah memiliki gambaran jiwa topeng yang akan ditarikannya kemudian dia mencari, memesan atau membuat sendiri topeng yang sesuai dengan karakter yang diinginkan penari, maka penari tidak susah lagi untuk menghidupkan topengnya.

Di samping latihan fisik, seorang penari topeng perlu juga melakukan latihan metafisik yang ditujukan untuk mengasah ketajaman rasa atau melatih kepekaan perasaan.

Dalam konteks profesionalisme, menjadi seniman itu tidak ada bedanya dengan menjadi petani, pedagang, politikus, militer, guru, dan profesi lainnya artinya kesuksesan profesi tersebut memerlukan usaha yang serius, totalitas, dan kedisiplinan.

Seorang seniman besar dari Spanyol yaitu Pablo Picasso mengatakan :’Seni adalah kebohongan yang membuat kita dapat menemukan kebenaran”.

Maka kebohongan dalam seni berbeda dengan kebohongan dalam tindakan penipuan. Kebohongan dalam seni menjadi kebohongan yang positif karena memang dikehendaki atau disenangi oleh khalayak. Seorang penari topeng yang sedang beraksi di depan penonton akan dipuji penonton jika dia berhasil “membohongi” penonton dengan berperan sesuai karakter topeng yang dipakainya, bukan berperan sebagai dirinya.

Halaman Rujukan pada buku Topeng








3

4

6

33

51

105

106

107

109

110

113

115

118

120

123

124

127

130

133

134

135

139

140

142

149

153

165

168

175

177

178

179

180


Rabu, 26 Maret 2008

Berprestasi tanpa Frustrasi

Once upon a time, di sebuah kota ada seleksi guru berprestasi yang diselenggarakan dinas pendidikan setempat. Ada seorang guru swasta bermaksud mengikuti seleksi tersebut.

Maka di sela-sela kesibukan jam mengajarnya di empat sekolah yang totalnya mencapai 56 jam pelajaran per minggu, ia menyempatkan diri menyiapkan berbagai persyaratan untuk mengikuti seleksi tersebut. Ada administrasi guru (Silabus, RPP), curiculum vitae, ada surat keterangan kepala sekolah, dan karya tulis yang dijagokan untuk mengikuti lomba tersebut. Dalam seminggu berbagai persyaratan telah berhasil disiapkan. Dan pada hari terakhir batas waktu pendaftaran ia pun mendaftar kepada panitia seleksi.

Di tempat pendaftaran dia mendapati namanya berada di urutan ke-9 dari daftar peserta yang sudah terdaftar. Sempat kaget juga ketika mendaftar ditanya oleh petugas tentang copy berkas-berkas persyaratan yang harus ada 3 copy. Namun karena hal itu tidak ada dalam surat pemberitahuan yang dulu diedarkan ke sekolah, maka dengan menyadari kekurangan tersebut petugas pendaftaran pun mengatakan : " Kalau tidak ada ya nggak apa-apa, biar oleh panitia saja sekalian. Soalnya baru Bapak saja yang sudah melengkapi persyaratan-persyaratannya. Sementara guru-guru yang lain baru didaftarkan namanya saja oleh sekolahnya". Maka dengan kondisi tersebut optimisme kesatu telah tertanam dalam diri sang guru itu. Ia optimis karena secara administrasi ia sudah "menang" di banding peserta yang lain, karena hari itu adalah hari terakhir bahkan jam terakhir batas waktu pendaftaran yang sebelumnya batas waktu pendaftaran ini pun pernah diundur juga.

Hari H pelaksanaan seleksi sudah tiba bertempat di sebuah sekolah negeri favorit. Ada beberapa kelompok guru yang diseleksi pada waktu itu sesuai dengan tingkat satuan pendidikan yang ada. Dan sang guru swasta merupakan salah-satu dari sebelas peserta seleksi di tingkat satuan pendidikannya. Dari list peserta yang terpampang di ruang tempat seleksi dia baru sadar bahwa dirinya merupakan satu-satunya guru swasta yang ikut dalam seleksi. Yang lainnya adalah para guru PNS yang mewakili sekolah mereka yang negeri juga.

Kira-kira jam setengah sepuluh proses seleksi dimulai setelah acara seremonial pembukaan. Setiap peserta mempunyai waktu sekitar dua puluh menit untuk proses seleksi. Proses ini terdiri dari beberapa tahap : Dimulai dengan test membaca ayat suci Al-Qur'an, presentasi karya tulis, dan wawancara dengan bahasa Inggris. Setiap peserta ditest oleh tiga orang penguji.

Selama tenggang waktu menunggu ditest, seperti biasa di antara peserta terjadi interaksi. Ada perkenalan, perbincangan tentang sekolah masing-masing, dan ada juga kecemasan-kecemasan para peserta menyangkut materi test yang kurang mereka kuasai. Ada yang belum lancar baca al-Qur'an, ada yang nggak bisa berbahasa Inggris, ada juga yang sudah memastikan bakal kalah karena mengetahui bahwa di antara peserta itu ada peserta guru senior yang sudah malang-melintang di dunia prestasi sampai tingkat nasional. Sang guru swasta dengan optimisme kesatu-nya termasuk peserta yang pasif-pasif saja dalam perhelatan kegelisahan menunggu giliran. Malah dengan perkembangan situasi khususnya setelah jeda shalat dhuhur ia mulai menemukan optimisme kedua.

Mengapa ada optimisme kedua ???? Karena ia sudah melihat kapasitas delapan peserta yang terlebih dahulu diseleksi sebelum dia sendiri. Apa yang dicemaskan dalam rentang waktu menunggu giliran tadi, memang terbukti di forum pengujian. Ada yang baca al-Qur'annya terbata-bata, ada yang sudah nyerah nggak bisa bahasa Inggris, ada yang gaptek nggak kenal laptop atau LCD / in focus, dan ada yang di dalam proses pengujian, waktu hanya habis untuk ngobrol karena peserta yang diuji sudah kenal akrab dengan para penguji. Semua itu diketahui oleh sang guru swasta baik dari menguping secara langsung, maupun dari mendengar kembali hasil rekaman perangkat MP3 player yang secara iseng ia pasang di tempat pengujian sejak jam setengah sepuluh sampai adzan dhuhur tiba.

Giliran ditest sudah tiba, waktu menunjukan pukul 13.55. Peserta nomor urut sembilan masuk dengan membawa berkas karya tulis, CD bukti fisik karya-karya, dan satu unit note book Fujitsu. Duduk di depan tiga orang penguji, dan tanpa banyak basa-basi, sesuai permintaan mulailah materi test membaca al-Qur'an. Seperti peserta yang lain ayat berapa dan surat apa ditentukan oleh penguji. Bagi peserta nomor sembilan materi ini bukan masalah sama sekali. Mencari surat Al-Baqarah ayat 200 dan membacanya nggak perlu waktu sampai tiga menit.

Ada yang janggal ketika pengujian. Para penguji itu menguji dengan tangan kosong, tulisan yang sudah dibuat susah-susah oleh peserta yang dulu pernah diserahkan kepada panitia pendaftaran, ternyata nggak terlihat keberadaannya di tangan para penguji. Jadi penguji itu belum tahu seperti apa karya tulis yang dibuat oleh peserta nomor urut sembilan ini. Akhirnya dokumen karya tulis yang dibawa ke ruang pengujian itu tidak disentuh sama sekali.

Saat presentasi tiba. Karena di ruang pengujian sudah terpasang Laptop yang tersambung ke monitor LCD, peserta nomor urut sembilan hanya tinggal memasang CD yang ia bawa. Notebook Fujitsu-nya nggak dipakai. Di antara 21 karya yang terangkum, hanya satu karya saja yang sempat dipresentasikan. Yaitu karya berupa modul test mandiri. Dan satu presentasi ini kelihatannya sudah membuat para penguji puas dan mereka memberikan compliment positif. Selintas terlihat juga di kaca jendela, para peserta lain nampaknya pada ngintip dan menguping juga ketika pengujian ini berlangsung.

Materi wawancara bahasa Inggris berlangsung lancar, karena peserta nomor urut sembilan ini cukup lancar berbicara bahasa Inggrisnya. And finally, the test is over. Para penguji, nggak seperti kepada peserta yang lain, ngasih selamat kepada peserta nomor urut sembilan. Keluar dari pintu ruang pengujian, para peserta yang tadi pada ngintip pun pada-pada ngasih selamat juga, sampai-sampai ada yang nyeletuk :"congratulation ! you're the champion". Dari kondisi ini muncullah optimisme ketiga. Amin.

Semua peserta telah selesai diuji ketika adzan ashar berkumandang. Dan hasil seleksi akan diumumkan sekitar jam 17.00. Setelah ditunggu-tunggu ternyata pengumuman belum juga muncul. Adzan Maghrib tiba, para peserta masih menunggu. Akhirnya beberapa menit sebelum adzan Isya, para peserta dikumpulkan di ruangan tempat acara ceremonial pembukaan. Pengumuman yang ditunggu-tunggu segera tiba. Namun sangat mengagetkan karena isi pengumumannya bukan hasil seleksi tetapi pemberitahuan bahwa hasil seleksi akan dikirimkan melalui surat ke sekolah-sekolah yang mengirimkan peserta.

Kira-kira seminggu setelah itu, surat pemberitahuan tentang hasil seleksi guru berprestasi datang ke sekolah. Dan peserta nomor urut sembilan ternyata belum diberi kesempatan untuk jadi juara bahkan untuk sekedar masuk ke tingkat enam besar pun, nggak ada celah.

Maka diam-diam tiga optimisme yang pernah tumbuh dalam diri guru swasta nomor urut sembilan itu kemudian mendatangkan satu hikmah. Bahwa untuk mendialogkan karya di dunia pendidikan, nggak perlu susah-susah ikut seleksi guru berprestasi. Salah-salah jika terobsesi bisa bikin guru frustasi.

Apa yang tertuang setelah tulisan ini adalah 21 karya yang pernah dijagokan oleh seorang guru swasta nomor urut sembilan dalam sebuah seleksi guru berprestasi. Jika ada yang bisa dimanfaatkan maka manfaatkanlah ........


________________________________________

KATALOG KARYA CIPTA
__________________________________________

KATA PENGANTAR


Bismillahirrahmanirrahim

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam yang telah menciptakan manusia sebagai makhluk berakal dengan tugas utama sebagai hamba-Nya dan sebagai khalifah di muka bumi. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah Muhammad SAW, keluarga dan karib kerabatnya serta segenap umat manusia yang tunduk patuh mengikuti jejak langkahnya. Amin.

Katalog ini sengaja disusun oleh penulis sebagai bentuk pernyataan resmi tentang beberapa karya cipta yang pernah, sedang dan akan penulis hasilkan. Lebih dari sekedar ”promosi” dalam event yang diselenggarakan Pemerintah untuk mendongkrak kreatifitas dan inovasi guru, dengan segala kerendahan hati penulis berharap katalog berikut bukti-bukti fisik yang menyertainya dapat menjadi materi urun rembug dalam dialog kreatifitas dan inovasi guru yang bermuara pada peningkatan kualitas program pendidikan nasional sebagaimana diharapkan.

Adapun karya-karya yang dimuat dalam katalog ini penulis batasi dari karya-karya yang diciptakan sejak penulis mulai menggeluti profesi sebagai guru, tepatnya sejak tahun 1999. Sebagian di antaranya dilengkapi lembar pengesahan dari pihak-pihak terkait, dan sebagian lainnya sesuai jenis karya serta tingkat keperluan pengesahannya belum dilengkapi. Meskipun demikian karya-karya tersebut selain karya nomor 21 disertai bukti fisiknya.

Dalam batas-batas tertentu, segala dampak yang mungkin muncul karena publikasi karya-karya ini, baik bagi penulis sendiri maupun bagi masyarakat, sepenuhnya penulis serahkan kepada Allah SWT. Bila itu positif, maka alhamdulillahi rabbil ’alamin, dan bila itu negatif, maka astaghfirullahal ’adhiem.

Demikian kata pengantar ini disampaikan, terima kasih atas kesempatan yang telah diberikan kepada penulis untuk berpartisipasi dalam kegiatan ini.

Alhamdulillahi rabbil ’alamin.

Tasikmalaya, Mei 2007


=======================================

KARYA NOMOR 1 :

”Bintang Berdendang, Mentari Menyanyi”

Karya ini berupa Kaset Album Karaoke Lagu-lagu Muhammadiyah yang pertama kali dipublikasikan pada saat Muktamar Muhammadiyah di Jakarta tahun 2000. Dengan berbagai keterbatasan dana dan fasilitas, penulis memproduksi kaset tersebut mulai dari “hunting” materi lagu, penggarapan arrasemen musik, proses rekaman musik pengiring, sampai proses pemasarannya dilakukan sendiri, kecuali untuk contoh vokal, penulis dibantu oleh semua anggota keluarga penulis yang rada-rada bisa menyanyi.

Kaset ini berisi lagu-lagu Muhammadiyah yang jumlahnya tidak kurang dari 18 judul lagu. Sebagai informasi tambahan, bahwa di dalam organisasi Muhammadiyah lagu-lagu ini menjadi simbol identitas mulai dari lagu untuk anak usia TK sampai lagu-lagu mars dan himne yang dimiliki oleh setiap organisasi otonom dalam Muhammadiyah. Dua di antaranya adalah lagu ciptaan penulis yaitu lagu yang berjudul “Today Star Tomorrow Sun” dan “Gita Santri Muhammadiyah”.

Motivasi penulis ketika memproduksi kaset karaoke tersebut dilatarbelakangi oleh keluhan warga Muhammadiyah yang merasa kesulitan mencari musik (musisi) pengiring ketika mereka hendak menyanyikan lagu-lagu Muhammadiyah.

Alhamdulillah dari 1000 copy kaset yang diproduksi, 75% laku terjual di arena Muktamar, 10% terjual di Tasikmalaya, 10% terjual di Bandung melalui PW Muhammadiyah Jawa Barat, dan 5% dihibahkan ke beberapa lembaga pendidikan Muhammadiyah di Tasikmalaya.

KARYA NOMOR 2 :

”Modul Penyusunan Jadwal KBM”

Karya ini berupa file berbasis aplikasi Microsoft excel (*.xls) yang pertama kali dibuat penulis ketika bertugas sebagai guru mata pelajaran PAI di SMK Muhammadiyah Tasikmalaya pada tahun 1999.

Dengan modul ini kita dapat menyusun jadwal KBM untuk beberapa rombongan belajar (dengan berbagai keterbatasan waktu yang disediakan guru) relatif lebih cepat dibandingkan dengan proses penyusunan secara manual (menggunakan kertas lebar dengan tabel yang ditulis tangan).

Dengan data awal tentang jumlah rombel, data kesiapan waktu guru, data alokasi waktu setiap mata pelajaran per kelas, dan data base kode guru serta mata pelajaran, kita dapat menyusun jadwal KBM secara semi otomatis dengan sistem kontrol yang dapat terhindar dari adanya bentrok waktu atau ketidaksesuaian alokasi waktu.

Modul ini seingat penulis pernah dan mungkin masih dimanfaatkan oleh sekolah-sekolah di antaranya : SMK Muhammadiyah Tasikmalaya, SMP Al-Muttaqin Tasikmalaya, SMP-SMA Plus Pesantren Amanah Muhammadiyah Tasikmalaya, dan SMA Muhammadiyah Cirebon.


KARYA NOMOR 3 :

”Mars SLTP Al-Muttaqin Tasikmalaya”

Karya ini berupa lagu yang diciptakan penulis kurang lebih seminggu sejak penulis dinyatakan diterima menjadi tenaga pengajar di SLTP Al-Muttaqin Tasikmalaya pada bulan Mei 2001.

Mulai diperkenalkan kepada siswa pada tahun ajaran 2001-2002 dan sampai saat ini menjadi lagu yang biasa dinyanyikan semua siswa dalam setiap upacara hari senin dan setiap ada acara-acara resmi sekolah.

Karya ini terdokumentasikan dalam naskah partitur, file aplikasi Cakewalk (wrk), file midi (mid), file audio (wav dan mp3).

KARYA NOMOR 4 :

”Himne SLTP Al-Muttaqin Tasikmalaya”

Karya ini berupa lagu yang diciptakan penulis setelah selama satu tahun lebih mengamati, menghayati dan terlibat dalam proses pendidikan yang berlangsung di SLTP Al-Muttaqin Tasikmalaya.

Pada pertengahan tahun ajaran 2002-2003 lagu ini mulai diperkenalkan dan sampai saat ini lagu ini pun biasa dinyanyikan semua siswa dalam setiap upacara hari senin dan setiap ada acara-acara resmi sekolah.

Ketika SMP Al-Muttaqin Tasikmalaya menyandang predikat sebagai Sekolah Standar Nasional pada tahun 2004, penulis lalu menggubah syair lagu ini dalam versi bahasa Inggris dan bahasa Arabnya.

Karya ini pun terdokumentasikan dalam naskah partitur, file aplikasi Cakewalk (wrk), file midi (mid), file audio (wav dan mp3).

KARYA NOMOR 5 :

”VCD Profil SLTP Al-Muttaqin Tasikmalaya”

Karya ini berupa video yang berisi berbagai informasi tentang SLTP Al-Muttaqin yang durasinya memang sangat panjang untuk sebuah video profil (kurang-lebih 75 menit). Pembuatannya pun memang tidak direncanakan untuk tujuan membuat video profil.

Karya ini bermula dari keisengan penulis yang pada saat itu (sekitar awal tahun 2003) lagi semangat-semangatnya “ngoprek” fasilitas handycam baru milik sekolah untuk meliput berbagai kegiatan para siswa, guru, dan sebagainya. Pokoknya setiap kegiatan, baik intern maupun ekstern pasti di”shooting” baik oleh penulis sendiri maupun oleh teman sejawat yang kebetulan “berani” ngoprek juga. Walhasil materi rekaman kegiatan selama hampir satu tahun sudah cukup banyak.

Kemudian dengan modal sedikit keterampilan dalam bidang video-editing, animasi, dan desain grafis, penulis mulai mengolah materi audio-visual yang sudah ada itu menjadi satu rangkaian tematis dari berbagai kegiatan di SMP Al-Muttaqin. Selama kurang-lebih satu bulan, hari libur dan separuh jam tidur penulis dipakai untuk menggarap video tersebut. Akhirnya jadilah rangkaian itu sebuah VCD berjudul Profil SMP Al-Muttaqin Tasikmalaya.

Meskipun sudah banyak data-data yang ”kadaluarsa” dan perlu diperbaharui lagi, VCD tersebut sampai masa PSB tahun ini masih digandakan untuk kegiatan publikasi sekolah.

Sebagai informasi tambahan, antara tahun 2003 s.d. awal 2007 semua dokumentasi kegiatan SMP Al-Muttaqin dalam format VCD (tidak kurang dari 36 judul), proses editing dan masteringnya ditangani oleh penulis.

KARYA NOMOR 6 :

Karya-karya Seni Kemuhammadiyahan”

Karya ini berupa artikel yang dimuat dalam majalah Suara Muhammadiyah edisi 16 – 31 Desember 2000.

KARYA NOMOR 7 :

” Syari’at Islam di Tasikmalaya ; nete taraje nincak hambalan”

Karya ini berupa Artikel yang dimuat dalam koran Priangan edisi 22-24 Agustus 2001.


KARYA NOMOR 8 :

” Memahami Bacaan Shalat & Dzikir Kata demi Kata”

Karya ini berupa buku saku yang berisi bacaan-bacaan dalam shalat, do’a-do’a dalam dzikir, dan beberapa surat pendek yang dilengkapi dengan terjemah dalam bahasa Indonesia kata per kata (frase per frase). Materi yang dimuat di dalam buku tersebut bersumber dari hasil-hasil keputusan majelis tarjih PP Muhammadiyah.

Penyusunan buku ini pada mulanya dilatarbelakangi oleh adanya tugas bagi penulis dari Ketua PD Muhammadiyah Tasikmalaya yang ketika itu (bulan Ramadlan 1422 H) Beliau kebagian jadwal mengisi kultum dan menjadi imam shalat tarawih di LP Tasikmalaya. Beliau menugaskan kepada penulis untuk membuat sesuatu yang dapat dijadikan kenang-kenangan dari Muhammadiyah untuk para narapidana, muncullah ide buku saku ini. Dan pada iedul fitri 1 syawwal 1422 H buku ini diperbanyak lagi untuk jama’ah shalat ’ied di kampus Muhammadiyah Jl. RSU 29, alhamdulillah 300 copy habis.

KARYA NOMOR 9 :

” Kemuhammadiyahan Jilid 1, 2, dan 3”

Karya ini berupa buku paket mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk kelas VII, VIII, dan IX yang merupakan pelajaran muatan lokal di sekolah-sekolah milik Muhammadiyah. Buku ini pertama kali dicetak tahun 2002 dan sampai sekarang masih menjadi buku pegangan siswa di SMP Plus Pesantren Amanah Muhammadiyah.


KARYA NOMOR 10 :

” Aku Debumu”

Karya ini berupa puisi yang dibuat oleh penulis di penghujung tahun pelajaran 2004-2005. Puisi ini berisi ekspresi subyektif penulis ketika mengalami semacam ketidakberdayaan sebagai guru dalam menanamkan nilai-nilai ideal kepada para anak didik khususnya kelas 3 saat itu. Yang penulis rasakan pada saat membuat puisi itu adalah betapa masih banyak ”guru-guru raksasa” yang bersimaharaja di luar lingkungan pendidikan sekolah yang justru lebih berpengaruh dalam proses pembentukan pribadi anak didik.

Puisi ini penulis sisipkan dalam VCD Dokumentasi Pelepasan Kelas 3 SMP Al-Muttaqin Tahun pelajaran 2004-2005, pada segmen ”pesan-pesan guru”.

KARYA NOMOR 11 dan 12 :

” Mars dan Himne Universitas Muhammadiyah Cirebon”

Karya ini berupa lagu yang diciptakan penulis pada bulan Nopember 2005 atas permintaan dari Rektor Universitas Muhammadiyah Cirebon yang saat itu dijabat oleh Prof. Dr. H. Sanusi Uwes, M.Pd.

Karya ini terdokumentasikan dalam file aplikasi Cakewalk (wrk), file midi (mid), file audio (wav dan mp3).

KARYA NOMOR 13 :

” Mars Musyawarah Wilayah Muhammadiyah Jawa Barat ke-18”

Karya ini berupa lagu yang diciptakan penulis atas permintaan dari Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Barat melalui Pimpinan Daerah Muhammadiyah Tasikmalaya. Ketika itu akan diselenggarakan Musyawarah Wilayah Muhammadiyah di Sukabumi pada tanggal 23-25 Desember 2005.

Lagu ini dibawakan pada pembukaan musywil oleh Korps Paduan Suara Universitas Muhammadiyah Sukabumi.

Karya ini terdokumentasikan dalam naskah partitur, file aplikasi Cakewalk (wrk), file midi (mid), file audio (wav dan mp3).

KARYA NOMOR 14 :

”Himne Pesantren Amanah Muhammadiyah”

Karya ini berupa lagu yang diciptakan penulis pada awal tahun 2006. Dalam pengalaman penulis menggubah lagu, karya yang satu ini adalah karya yang paling lama proses “pencariannya”. Sebab sudah dirintis ketika penulis sudah menjalani tugas mengajar di pesantrean Amanah selama 1 tahun (tahun 2001). Entah karena di Amanah sudah dipopulerkan lagu-lagu Muhammadiyah, yang pasti tidak kurang dari 9 konsep melodi yang pernah dirancang tidak kunjung jadi, malah ada yang akhirnya jadi lagu biasa, atau jadi lagu untuk institusi lain.

Karya ini terdokumentasikan dalam file aplikasi Cakewalk (wrk), file midi (mid), file audio (wav dan mp3).

KARYA NOMOR 15 :

”Modul Test on-line Mata Pelajaran Kesenian”

Karya ini berupa file berbasis aplikasi Microsoft excel (*.xls) yang sengaja dibuat oleh penulis ketika ujian akhir kelas IX tahun pelajaran 2005-2006. Modul ini terdiri dari dua macam file yaitu : pertama, file kerja siswa yang terdiri dari beberapa file sebanyak jumlah siswa dan kedua, file rekapitulasi hasil kerja siswa.

Modul ini dapat diterapkan dalam sebuah jaringan komputer (LAN) di mana setiap siswa mengerjakan file kerjanya pada setiap unit komputer yang ada dalam jaringan. Hasil kerja siswa bisa langsung diketahui melalui file rekapitulasi hasil kerja siswa sesaat setelah siswa menyatakan diri selesai mengerjakan soal-soal testnya.

Modul ini masih digunakan dalam ujian akhir kelas IX tahun pelajaran 2006-2007 kemarin.

KARYA NOMOR 16 dan 17 :

”Mars dan Himne Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Garut”

Karya ini berupa lagu yang diciptakan penulis pada awal tahun 2007, atas permintaan dari Pimpinan Pesantren Darul Arqam melalui seorang teman yang bertugas di sana. Untuk dua karya ini penulis mempunyai “rasa” tersendiri, mengingat pesantren ini adalah almamater penulis antara tahun 1984-1990.

KARYA NOMOR 18 :

”Media Teman (Test Mandiri)”

Karya ini berupa file berbasis aplikasi Microsoft excel (*.xls) yang sengaja dibuat oleh penulis sebagai media latihan mandiri untuk siswa, baik secara perorangan maupun beberapa orang. Ke dalam file ini (oleh guru/penguji) dapat dimasukkan maksimal lima puluh buah soal pilihan berganda berikut kunci jawabannya. Dan jika dikehendaki, guru dapat mencegah siswa dari akses langsung ke dalam sheet yang berisi soal dan kunci jawaban ini. Soal-soal yang dapat dimasukan ke dalam file ini masih terbatas pada soal-soal yang berbentuk teks yang tidak mengandung gambar/grafik.

Dengan media ini siswa dapat berlatih sendiri mengerjakan soal-soal yang tersedia. Setelah merasa puas dan menyatakan diri selesai sesaat kemudian dapat melihat hasil kerjanya dan mengecek ulang soal-soal yang salah jawabannya.. Bila tidak puas dengan hasil yang didapat, siswa dapat mengulang mengerjakannya kembali soal-soal yang sama tapi urutan nomornya sudah berubah dan oleh sebab itu kunci jawaban yang tercantum pada lembar jawaban pertama tidak berlaku untuk soal-soal pada putaran percobaan selanjutnya. Pada prinsipnya urutan nomor soal yang ada dalam media test ini akah selalu berubah setiap kali pengerjaan soal dimulai.

Bagi guru file ini bisa dimanfaatkan sebagai PR bagi siswa yang memiliki perangkat komputer di rumahnya. Siswa tinggal disuruh meng-copy filenya dan jika sudah dikerjakan filenya diminta lagi oleh guru. Dari file yang sudah dikerjakan siswa, guru bisa mengetahui beberapa hal berikut :

- Frekuensi siswa dalam mengerjakan paket soal

- Rentang waktu yang dipakai siswa setiap kali mengerjakan soal

- Fluktuasi raihan score siswa bila dia mengerjakan paket soal berkali-kali.

Pada dasarnya file ini sudah dilengkapi sistem pengaman agar siswa tidak dapat memanipulasi hasil yang dia kerjakan, kalaupun itu terjadi manipulasi itu tetap dapat dideteksi khususnya oleh penulis.

KARYA NOMOR 19 :

”Jinggle Q-Taz FM”

Karya ini berupa audio spot jinggle berdurasi 55 detik yang biasa diperdengarkan pada saat-saat tertentu di radio Q-Taz FM. Jinggle ini dibuat pada akhir bulan maret 2007, beberapa hari setelah SMP Al-Muttaqin Tasikmalaya mulai mengaktifkan Radio FM Sekolah yang biasa mengudara pada frekuensi 107,7 KHz.

KARYA NOMOR 20 :

”Serenada Bingkai Pinangan”

Karya ini merupakan sebuah cerpen yang berisi kisah imajiner tentang seorang guru seni musik yang diilhami suatu fragmentasi kisah nyata.

KARYA NOMOR 21 :

”Apel Jawa Multipel”

Karya ini berupa hardware yang dapat dihubungkan ke komputer sebagai input device untuk memeriksa lembar jawaban test multipel choice. Dengan alat ini lembar jawaban test pilihan ganda berbentuk kertas HVS biasa yang dikerjakan dengan alat tulis apa saja, baik dilingkari, disilang, maupun dihitamkan dapat diperiksa.

Proses kerja alat ini hampir sama dengan proses ketika kita memeriksa lembar jawaban pilihan ganda dengan plastik transparan. Bedanya, jika kita selesai memeriksa dengan transparansi hasilnya hanya baru berbentuk jumlah jawaban yang benar dan atau yang salah yang tersimpan di memori otak kita yang kemudian dituliskan. Sementara ketika kita selesai memeriksa dengan alat ini, hasilnya sudah langsung masuk menjadi data di komputer. Dan kelebihan lain, jika kita sudah selesai memeriksa semua jawaban siswa dalam satu kelas, dengan memanfaatkan berbagai worksheet function pada MS Excel, kita bisa langsung mendapatkan Analisis Butir Soal (ABS), nilai tertinggi / terendah, nilai rata-rata dan sebagainya.

Riset yang dilakukan penulis untuk karya ini bermula dari keinginan penulis untuk memperingan beban kerja pada setiap semester yang harus memeriksa hasil test rata-rata tidak kurang dari 1 rim lembar jawaban. Pekerjaan itu cukup menyita waktu dan kalau sudah jenuh terkadang sering mengurungkan niat untuk melaksanakan ABS karena harus mengentry lagi data jawaban ke dalam komputer di mana waktu yang diperlukan untuk itu kira-kira 5 kali dari waktu yang diperlukan untuk memeriksa dan mengetahui jumlah jawaban yang benar/salah saja. Pada pertengahan januari 2007 berbagai percobaan sudah mulai menampakkan hasil dan kini penulis masih merancang prototype dari alat ini meski dengan menggunakan fasilitas yang relatif terjangkau oleh kemampuan finansial penulis.

Oleh sebab itu karena satu dan lain hal, penulis belum dapat menjelaskan spesifikasi teknis dari alat ini. Dan dalam pada itu penulis masih mencari berbagai informasi tentang keberadaan alat seperti ini, masih memikirkan berbagai dampak yang mungkin ditimbulkan jika alat ini dipublikasikan, selebihnya penulis masih mencari pihak-pihak yang berkompeten untuk diminta nasihat dan masukannya.

______________________________

KATA PENUTUP

Demikian kiranya beberapa uraian tentang karya-karya yang pernah, sedang dan akan penulis hasilkan selama menjalani profesi sebagai guru. Sebetulnya masih ada karya-karya lain terutama yang bersifat musikal (lagu & arransmen musik), naskah ceramah/khutbah, powerpoint presentation files, dan beberapa hasil video editing dari berbagai event termasuk dokumentasi kegiatan sekolah dan proses KBM, tetapi semua itu baru menjadi sebuah ”karya” dalam keyakinan penulis pribadi dan bagaimana itu semua dapat menjadi sesuatu yang memberikan manfaat secara lebih luas lagi, penulis masih akan terus memikirkan caranya.

Akhirnya dengan berbagai keterbatasan dan kekurangan penulis dalam menjalankan tugas profesi guru, ijinkan penulis mengutif sepotong firman Allah yang berbunyi : ”Dan katakanlah olehmu Hai Muhammad, berkaryalah kamu sekalian, niscaya Allah akan melihat karyamu itu...dst. (QS At-Taubah : 105)”. Semoga apa yang penulis klaim dalam tulisan ini sebagai karya penulis, termasuk karya yang dilihat Allah dan mendapatkan kredit point dari samudra pahala-Nya.

Billahi taufik wal hidayah,

Assalamu ’alaikum warahmatullahi wa barakatuh.

Tasikmalaya, Mei 2007