Kamis, 15 April 2010

PORTO FOLIOKU SAMPAI APRIL 2010

KOMPONEN PORTOFOLIO

1.

Kualifikasi Akademik

NO.

JENJANG

PERGURUAN

TINGGI

FAKULTAS

JURUSAN /

PRODI

TAHUN

LULUS

a.

S1

IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Ushuluddin

Tafsir Hadis

1996

b.

Post. Grad. Diploma

Universitas Terbuka

FKIP

Akta Mengajar

2007

c.

Sertifikasi Guru

Universitas Siliwangi

FKIP

Seni Budaya

2009

2.

Pendidikan dan Pelatihan

NO.

NAMA / JENIS DIKLAT

TEMPAT

DURASI WAKTU

PENYELENGGARA

a.

Tadrib al-Lughoh al-Arabiyyah

Garut

170 jam

Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Garut

b.

Penataran P-4

Yogyakarta

45 jam

IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

c.

Darul Arqom Dasar

Yogyakarta

36 jam

IMM Fak. Ushuluddin IAIN Sunan Kalijaga

d.

Darul Arqom Madya

Yogyakarta

48 jam

IMM Cabang Sleman Yogyakarta

e.

Semiloka Penyusunan Kurikulum dan Buku Ajar

Sumedang

45 jam

Majelis Dikdasmen PW Muhammadiyah Jabar

f.

Pelatihan Guru Kesenian Program PSN 1

Bandung

48 jam

Lembaga Pendidikan Seni Nusantara

g.

Pelatihan Guru Kesenian Program PSN 2

Tasikmalaya

48 jam

Lembaga Pendidikan Seni Nusantara

h.

Pelatihan Guru Kesenian Program PSN 3

Tasikmalaya

48 jam

Lembaga Pendidikan Seni Nusantara

i.

Pelatihan Guru Kesenian Program PSN 4

Tasikmalaya

48 jam

Lembaga Pendidikan Seni Nusantara

j.

Pelatihan Metodologi Penelitian & Pendokumentasian Kesenian Nusantara

Jakarta

48 jam

Lembaga Pendidikan Seni Nusantara (LPSN) & Dirjen PMPTK Depdiknas.

k.

Workshop Pembelajaran Seni Budaya Nusantara

Surabaya

10 jam

LPSN & Dinas Pendidikan Prop. Jawa Timur

l.

Pelatihan Guru Kesenian Program PSN 5

Tasikmalaya

48 jam

Lembaga Pendidikan Seni Nusantara

m.

Pelatihan SDM LPI Yayasan Al-Muttaqin Tasikmalaya

Tasikmalaya

36 jam

LPI AL-Muttaqin Tasikmalaya

n.

Diklat Sertifikasi LPI Yayasan Al-Muttaqin Tasikmalaya

Tasikmalaya

30 jam

LPI AL-Muttaqin Tasikmalaya

o.

Bintek KTSP tingkat Kota Tasikmalaya

Tasikmalaya

44 jam

Dinas Pendidikan Kota Tasikmalata

p.

Pelatihan Pelatih Drum Band Hizbul Wathan

Yogyakarta

16 jam

Kwartir Pusat Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan

q.

Pelatihan Guru Al-Islam dan Kemuhammadiyahan

Cirebon

20 jam

Majelis Dikdasmen PW Muhammadiyah Jabar

r.

Pelatihan Guru Program CSR Pendidikan Telkom-Republika

Cirebon

20 jam

Majelis Dikdasmen PW Muhammadiyah Jabar

s.

Sarasehan Nasional dan Workshop Pengembangan Potensi Wirausaha

Rangkasbitung

20 jam

Lembaga Seni Budaya PP Muhammadiyah

3.

Pengalaman Mengajar

NO.

NAMA SEKOLAH

BIDANG STUDI / GURU KELAS

LAMA MENGAJAR

a.

Madrasah Aliyah Muhammadiyah Tasikmalaya

Kerajinan Tangan dan Kesenian

1996 s.d.1999

b.

SMK Muhammadiyah Tasikmalaya

Pendidikan Agama Islam (PAI)

1999 s.d. 2003

c.

Sekolah Tinggi Agama Islam Tasikmalaya

Tafsir, Ulumul Hadis, Ilmu Pendidikan Islam

2000 s.d. 2003

d.

Akademi Keperawatan Muhammadiyah Tasikmalaya

Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK)

2000 s.d. 2004

e.

SMP Plus Pesantren Amanah Muhammadiyah

AIK & Seni Budaya

2000 s.d. sekarang

f.

SMA Plus Pesantren Amanah Muhammadiyah

AIK & Seni Budaya

2001 s.d. sekarang

g.

SMP Al-Muttaqin Tasikmalaya

Seni Budaya

2001 s.d. sekarang

h.

SMA Al-Muttaqin Tasikmalaya

Seni Budaya

2003 s.d. 2009

4.

Perencanaan dan Pelaksanaan Pembelajaran

a.

Perencanaan Pembelajaran

NO.

MATA

PELAJARAN

MATERI / KOMPETENSI

KELAS SEMESTER

TAHUN

1)

Seni Budaya

Menggambar bentuk dengan obyek karya seni rupa terapan

Kls. VII Smt. 1

2007

2)

Seni Budaya

Eksplorasi teknik olah tubuh, olah pikir dan olah suara dalam teater

Kls. VII Smt. 1

2007

3)

Seni Budaya

Mengidentifikasi ragam musik daerah setempat

Kls. VII Smt. 2

2007

4)

Seni Budaya

Identifikasi dan apresiasi karya tari Nusantara

Kls VIII Smt. 2

2007

5)

Seni Budaya

Mengekspresikan diri dalam Pergelaran Seni

Kls. IX Smt. 2

2007

b.

Pelaksanaan Pembelajaran

5.

Penilaian dari Atasan dan Pengawas

Skor penilaian atasan dan pengawas (diambil dari amplop tertutup) : ……

6.

Prestasi Akademik

a.

Lomba dan Karya Akademik

NO.

NAMA LOMBA / KEJUARAAN

WAKTU PELAKSANAAN

TINGKAT

PENYELENGGARA

1)

Lomba Cipta Lagu Kepedulian Sosial

Juni 1996

Nasional

Yayasan Dompet Dhuafa Republika & Swaramasta

2)

Lomba Nyanyi antar Guru

September 2004

Kota

Dinas Pendidikan Kota Tasikmalaya

3)

Lomba Guru Berprestasi

Maret 2007

Kota

Dinas Pendidikan Kota Tasikmalaya

4)

Lomba Keberhasilan Guru dalam Pembelajaran

September 2007

Nasional

Dirjen PMPTK Depdiknas

b.

Karya Monumental

NO.

NAMA / JENIS KARYA

BULAN / TAHUN DIHASILKAN

WILAYAH PENGGUNA / KEBERMANFAATAN/
SOSIALISASI

1)

Lagu Mars SLTP Al-Muttaqin Tasikmalaya

2001

Sekolah

2)

Lagu Himne SLTP Al-Muttaqin Tasikmalaya

2002

Sekolah

3)

Lagu Himne Pesantrean Amanah Muhammadiyah

2006

Sekolah

c.

Sertifikat Keahlian/Keterampilan dan/atau capaian skor TOEFL

NO.

NAMA SERTIFIKAT KEAHLIAN

WAKTU PEROLEHAN

TINGKAT

LEMBAGA YANG MENGELUARKAN

1)

TOEFL

Januari 2010

Nasional

Lembaga Bahasa Internasional FIB-UI

2)

d.

Pembimbingan teman sejawat

NO.

MATA PELAJARAN / BIDANG STUDI

INSTRUKTUR/GURU INTI/ TUTOR/PEMANDU

TEMPAT

1)

Al-Islam dan Kemuhammadiyahan

Instruktur Pembinaan Guru di lingkungan Majelis Dikdasmen PD Muhammadiyah Tasikmalaya

Kampus Muhammadiyah Tasikmalaya

2)

Seni Budaya

Pemandu Materi Pendokumentasian Kegiatan Seni Budaya pada Pelatihan Guru Pendidikan Seni Nusantara

Hotel Pajajaran Tasikmalaya

3)

Al-Islam dan Kemuhammadiyahan

Instruktur Pembinaan Guru di lingkungan Majelis Dikdasmen PD Muhammadiyah Tasikmalaya

Kampus Muhammadiyah Tasikmalaya

e.

Pembimbingan siswa

1) Yang mencapai predikat juara

NO.

NAMA KEJUARAAN

TINGKAT

TEMPAT DAN WAKTU

a)

Juara III Lomba Vokal Grup - Porseni 2004

Kota

Tasikmalaya, juli 04

b)

Juara Harapan I Lomba Solo Vokal - Porseni 2004

Kota

Tasikmalaya, juli 04

c)

Juara III Lomba Baca Puisi Kel Puteri Porseni 2004

Kota

Tasikmalaya, juli 04

d)

Juara I Lomba Melukis - Porseni 2004

Kota

Tasikmalaya, juli 04

e)

Juara I Lomba Melukis - Porseni 2006

Kota

Tasikmalaya, juli 06

f)

Juara II Lomba Melukis - Porseni 2006

Kota

Tasikmalaya, juli 06

g)

Juara II Lomba Koor antar Perguruan Muhammadiyah se-Tasikmalaya

Kota-Kabupaten

Tasikmalaya, Januari 2007

2) Yang tidak mencapai predikat juara

NO.

NAMA KEGIATAN

TEMPAT

LAMA (WAKTU PEMBIMBINGAN)

a)

Persiapan mengikuti Lomba Nyanyi Solo antar siswa SMP pada PORSENI Dinas Pendidikan Kota Tasikmalaya tahun 2006

SMP Al-Muttaqin

3 x 60 menit ( 3 kali pertemuan latihan)

7.

Karya Pengembangan Profesi

a.

Karya Tulis

NO.

JUDUL

JENIS

PENERBIT

TAHUN TERBIT

1)

Posisi Karya Seni Kemuhammadiyahan

Artikel

Majalah Suara Muhammadiyah

2000

2)

Syari’at Islam di Tasikmalaya ; nete taraje nincak hambalan

Artikel

Koran Priangan

2001

3)

Kemuhammadiyahan jilid 1,2,3

Buku Paket Mata Pelajaran

SMP Plus Pesantren Amanah Muhammadiyah

2002

4)

Memahami Bacaan Shalat & Dzikir Kata demi Kata

Buku Saku

PD. Muhammadiyah Tasikmalaya

2002

5)

Mata Pelajaran Saya Kok Tidak Ada

Artikel

Koran Priangan

2008

6)

Mengapresiasi HAM dalam Keterpaduan Hablun minallah wa Hablun Minannas

Artikel bedah buku

Maarif Institute for Culture and Humanity

2008

b.

Penelitian

NO.

JUDUL

TAHUN

SUMBER DANA

STATUS (KETUA/ ANGGOTA)

1)

Mengembangkan Pembiasaaan Membaca Al-Qur’an dengan Benar
dan Mengefektifkan Metode Diskusi dalam Pelaksanaan Pembelajaran

2006

Pribadi

Ketua

2)

" Bintangkan Peserta Didik : Program Dokumentasi Audio Visual Pagelaran Kelas IX"

2007

Pribadi

Ketua

c.

Reviewer buku, penyunting buku, penyunting jurnal, dan/atau penulis
soal EBTANAS/UN/UASDA

NO.

NAMA KEGIATAN

TAHUN

1)

Penyusunan Materi Soal Ujian Akhir Sekolah (UAS) Tahun Pelajaran 2005-2006 pada Mata Pelajaran Al-Islam dan Kemuhammadiyahan di lingkungan Majelis Dikdasmen PW Muhammadiyah Jawa Barat.

2006

d.

Media dan Alat Pembelajaran

NO.

JENIS MEDIA / ALAT

TAHUN

SUMBER DANA

STATUS (KETUA/ ANGGOTA)

1)

Software Modul Penyusunan Jadwal KBM

2001

Pribadi

Ketua

2)

Software Modul Test on-line Mata Pelajaran Seni Musik

2005

Pribadi

Ketua

3)

Software Modul Media Teman (Test Mandiri)

2006

Pribadi

Ketua

4)

VCD Pembelajaran Analisis Seni Tari

2006

Pribadi

Ketua

5)

Software Modul Test on-line untuk Latihan UN 2008

2008

Pribadi

Ketua

e.

Karya teknologi/seni (TTG, patung, rupa, tari, lukis, sastra, dll.)

NO.

NAMA KARYA

TAHUN

DESKRIPSI KARYA

1)

Nama-nama dan Debu
Bosnia Herzegovina
Sujud Mawar

1994

Lagu-lagu, dipentaskan pertama kali dalam pentas SULUK (Pementasan karya-karya musikal Teater ESKA) di Auditorium IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 8 Januari 1994.

2)

Lebaran Tang-tong
Garis Limit Pencarian
2000 Generasi Janggut
The Nought within The Nude

1995

Puisi-puisi, dimuat dalam buku antologi puisi Risalah Badai (PT Bigraf-1995, Yogyakarta)

3)

Mars Muktamar IRM ke-10

1995

Berdasarkan SK No. XXIII/PP.IRM/ 1995 ditetapkan sebagai Mars Muktamar IRM ke-10 di Surakarta, Maret 1996

4)

Bintang Berdendang Mentari Menyanyi

2000

Kaset Album Karaoke Lagu-lagu Muhammadiyah. Pertama kali dipublikasikan dalam Muktamar Muhammadiyah tahun 2000 di Jakarta.

5)

Mars Musyawarah Wilayah Muhammadiyah Jawa Barat

2005

Lagu yang diciptakan atas permintaan dari PW Muhammadiyah Jawa Barat menjelang Musyawarah Wilayah Muhammadiyah di Sukabumi pada tanggal 23-25 Desember 2005

6)

Mars Universitas Muhammadiyah Cirebon

2005

Lagu yang menjadi salah satu identitas Universitas Muhammadiyah Cirebon

7)

Himne Universitas Muhammadiyah Cirebon

2005

8)

Gita Catur Lomba

2006

Theme Song Catur Lomba yang secara rutin diadakan setiap tahun di SMP Al-Muttaqin

9)

Mars Ma'had Darul Arqam

2007

Lagu yang menjadi salah satu identitas Ma'had (pesantren) Darul Arqam Muhammadiyah Garut

10)

Himne Ma'had Darul Arqam

2007

8.

Keikutsertaan dalam Forum Ilmiah

NO.

JENIS KEGIATAN

TAHUN

PERAN

TINGKAT

a.

Seminar Sastra

1995

Peserta

Lokal

b.

Pesantren Ramadlan Angkatan Muda Muhammadiyah Tasikmalaya

2000

Instruktur

Lokal

c.

Forum Komunikasi dan Konsultasi Daerah antar Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat dan Pejabat.

2001

Peserta

Regional

d.

Forum Komunikasi dan Konsultasi Daerah antar Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat dan Pejabat.

2002

Peserta

Regional

e.

Semiloka Mubalig Muhammadiyah tingkat Wilayah Jawa Barat

2003

Peserta

Regional

f.

Catur Lomba VII dan English Contest 2008

2008

Panitia

Kota

g.

Pelatihan tentang Problematika Pubertas dan Permasalahannya serta Alternatif Pemecahannya.

2008

Peserta

Kota

h.

Apresiasi Seni Pelajar Jawa Timur dan Festival Nusantara

2008

Penyaji dan Peserta

Nasional

i.

Seminar Sehari tentang Peran Orang Tua dan Guru dalam Penanganan Problematika Masa Remaja

2009

Peserta

Kota

j.

Darul Arqam Dasar Muhammadiyah Tasikmalaya

2009

Instruktur

Kota-Kabupaten

k.

Outdoor Training MGMP Seni Budaya

2009

Peserta

Kota

l.

Catur Lomba IX dan English Contest 2010

2010

Panitia

Kota

9.

Pengalaman menjadi pengurus organisasi di bidang kependidikan dan sosial

a.

Pengalaman Organisasi

NO.

NAMA ORGANISASI

TAHUN

JABATAN

TINGKAT

1)

Muhammadiyah Daerah Tasikmalaya

2000-2005

Wakil Sekretaris

Kota-Kabupaten

2)

Muhammadiyah Daerah Tasikmalaya

2005-2010

Wakil Sekretaris

Kota-Kabupaten

3)

Muhammadiyah Daerah Kota Tasikmalaya

2005-2010 (transisi)

Wakil Ketua - Ketua Majelis Pend. Kader

Kota

4)

Korps Muballigh Muhammadiyah Daerah Tasikmalaya

1996-2010

Anggota

Kota

b.

Pengalaman Mendapat Tugas Tambahan

NO.

JABATAN

TH …. S/D TH ….

NAMA SEKOLAH

1)

Pembina kegiatan ekstrakurikuler seni musik

2001 s/d 2006

SMP Al-Muttaqin Tasikmalaya

2)

Pembina kegiatan ekstrakurikuler Paduan Suara

2007 s/d 2009

SMP Plus Pesantren Amanah Muhammadiyah

3)

PKS Kurikulum

2007 s/d 2012

SMA Plus Pesantren Amanah Muhammadiyah

10.

Penghargaan yang relevan dengan bidang pendidikan

a.

Penghargaan

NO.

JENIS PENGHARGAAN

PEMBERI PENHARGAAN

TINGKAT

TAHUN

1)

Sertifikat Penghargaan

Yayasan Janur Kuning & RCTI

Kabupaten

1996

2)

Piagam Penghargaan

Panitia Gelantara

Nasional

1997

3)

Sertifikat Penghargaan

Yayasan Janur Kuning

Kabupaten

1997

4)

Piagam Penghargaan

SMP Al-Muttaqin Tasikmalaya

Sekolah

2003

5)

SK Guru Berprestasi

SMP Al-Muttaqin Tasikmalaya

Sekolah

2006

6)

Piagam Penghargaan

Kwarcab Ger. Pramuka Kota Tasikmalaya

Kota

2009

7)

Piagam Penghargaan

PD Muhammadiyah Tasikmalaya

Kota - Kabupaten

2009

Dengan ini saya menyatakan bahwa pernyataan dan dokumen di dalam portofolio ini benar-benar hasil karya saya sendiri, dan jika di kemudian hari ternyata pernyataan dan dokumen saya tidak benar, saya bersedia menerima sanksi dan dampak hukum sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku

Tasikmalaya, April 2010

Penyusun

Asep Hilman Yahya, S. Ag.

NBM : 652 841

Selasa, 13 April 2010

Kisi-kisi Materi US Seni Budaya SMP 2010

Aspek Seni Rupa

  • Seni Rupa Murni Daerah (Konsep, Ragam, Tema, dan Gaya)
  • Seni Rupa Murni Nusantara dan Mancanegara (Konsep, Ragam, Tema, dan Gaya termasuk aliran-aliran dalam seni rupa)
  • Seni Patung (Pengertian, Fungsi, Corak, Ragam, Media karya)
  • Tokoh-tokoh pelukis dan pematung yang sangat terkenal
  • Seni Grafis (Cetak tinggi, cetak dalam, cetak saring/sablon, cetak cahaya/fotografi)
  • Pengelolaan Pameran

Aspek Seni Musik

  • Musik Asia (Malaysia, Cina, Jepang, India)
  • Sejarah Musik Barat
  • Ciri khas musik di Era klasik
  • Jenis-jenis Musik (berdasarkan fungsi, tatanan masyarakat, dan gaya/aliran)
  • Pengetahuan praktis bermain instrument (rekorder, gitar, piano)
  • Penerapan Akord Dasar (akor tingkat 1, tingkat 4, tingkat 5)
  • Pengelolaan Pergelaran (tempat, busana, tata-rias, dst…)

Catatan :
Siswa yang memakai buku SENI BUDAYA untuk SMP kelas IX terbitan ERLANGGA 2007 bisa merujuk dari BAB I s.d VII ditambah BAB XII.

Selasa, 26 Mei 2009

KELOMPOK BERMAIN AISYIYAH SAMBONGJAYA


Jl. Sambongjaya 103 B Mangkubumi
Kota Tasikmalaya 46181 Tlp. 0265-340402 - 08122060859

Kelompok Bermain Aisyiyah, merupakan wadah Pendidikan Anak Usia Dini dalam upaya menstimulasi, membimbing, mengarahkan dan memberikan kegiatan pembelajaran yang menghasilkan kemampuan dan keterampilan pada anak.
Kelompok Bermain Aisyiyah berada pada jalur Pendidikan Anak Usia Dini Non Formal, berdiri pada tanggal 18 Februari 2007, beralamat di Jl. Sambongjaya no 103 B RT 05 RW 10 Kelurahan Sambongjaya Kecamatan Mangkubumi Kota Tasikmalaya Kode Pos 46181 telephon (0265) 340402. Pengelolanya adalah: Pipih Sopiah sebagai ketua pelaksana; Siti Noor Farida, S.Ag. sebagai sekretaris; dan Rita Roslia, S.Ag. sebagai bendahara.
Secara legalitas, lembaga ini terdaftar di Dinas Pendidikan Kota Tasikmalaya tanggal 9 Juli 2009 M. dengan nomor 421.9/1484.b/diklusp. Pendidik di lembaga kami pada saat ini ada 4 orang dan tenaga kependidikan ada 2 orang yang sebagian besar berlatar belakang pendidikan perguruan tinggi.
Pembelajaran diarahkan pada peletakan dasar pertumbuhan dan perkembangan dengan pendekatan program belajar melalui bermain sehingga memungkinkan anak belajar dalam lingkungan yang menyenangkan, dengan pilihan tema sesuai dengan kurikulum yang diterbitkan DEPDIKNAS, dengan menggunakan alat peraga yang sederhana namun mampu memberikan pembelajaran yang bermakna dan mudah diterima oleh anak.
Kegiatan yang dilakukan didasarkan pada aspek pengembangan moral dan agama, fisik-motorik, bahasa, kognitif, sosio-emosional dan pengembangan seni. Proses pembelajaran dilaksanakan pada hari senin, selasa, rabu dan kamis selama 2 jam yakni pukul 08.00 WIB sampai dengan 10.00 WIB. Program pendidikan diselenggarakan dalam dua kelompok usia, 2-4 tahun dan 5-6 tahun.
Fasilitas yang tersedia di Kelompok Bermain Aisyiyah, adalah: Ruang kelas, Taman bermain, WC, APE luar dan APE dalam.

Minggu, 14 Desember 2008

RESUME MATERI PEMBAHASAN TARI KOMUNAL

Pendahuluan

Tari komunal adalah segala aktivitas tari yang melibatkan instrumen atau struktur sosial kemasyarakatan baik atas dasar kepentingan bersama dalam komunitas maupun kepentingan individual. Sebagai contoh, dalam peristiwa tari komunal yang ditandai dengan terlibatnya unsur sistem sosial yang telah ada di antaranya adalah dengan Tampilnya pemuka masyarakat sebagai pemimpin.

Ditinjau dari identitasnya secara umum, tari komunal merupakan tarian yang lahir dari semangat kebersamaan sehingga memiliki fungsi sosio-kultural bahkan bisa menjadi salah satu pendukung upacara ritual keagamaan. Dalam praktiknya tari komunal dapat dilaksanakan tanpa keahlian tari secara khusus, karena tarian tersebut tidak terlahir sebagai karya cipta seorang seniman tari.

Oleh sebab itu tari komunal memiliki ciri-ciri utama sbb :

- Diadakan untuk kepentingan komunitas

- Melibatkan sistem sosial yang telah ada

- Merupakan pengabdian sosial dan lingkungan

- Dilaksanakan secara spontan atau terencana

Fenomena bahwa tari komunal bisa saja menjadi suatu kewajiban adat di suatu daerah atau menjadi sebentuk pengabdian sosial dan lingkungan, sehingga dalam hal ini kemahiran tehnik tidak begitu diperlukan dapat kita lihat di Tanah Karo di mana kaum muda-mudi di sana merasa melanggar adat jika tidak terlibat dalam upacara inisiasi Guro-guro Aron.

Aturan yang berlaku dalam tari komunal secara umum tidaklah baku dan bersifat kebiasaan. Namun pada awal abad ke-20 di Jawa Barat tumbuh tradisi pelajaran tari Tayub yang bersifat standar. “Tarian pelajaran” ini kemudian dikenal sebagai Ibing keurseus. (course-Inggris)

Karena ketidakbakuan aturan dalam tari komunal, maka banyak peluang untuk berimprovisasi. Namun improvisasi haruslah dilakukan dengan benar sesuai konteksnya. Karena itu seorang penari tradisi/komunal harus betul-betul memahami ruang sosial budayanya. Sehingga dia tidak menafsirkan improvisasi itu sebagai suatu kebebasan bergerak yang mutlak dan tidak terbatas. Improvisasi pun perlu profesionalisme.

Aspek profesionalisme ini bisa menjadi salah satu hal yang diperhatikan dalam tari komunal. Seperti dalam kasus perkolong-kolong, ketika penari tampil para penonton biasanya menilai aspek-aspek teknis seperti kekayaan gerak tari, keterampilan atau kelenturan tubuh, kekuatan fisik, dan kedalaman kesenimanannya. Sehingga bagi penari perkolong-kolong yang profesional di samping tari komunal ini menjadi media hiburan, baginya akan menjadi media komersil yang bisa diandalkan sebagai mata pencaharian. Dengan komersialisme seperti itu ia akan selalu meningkatkan profesionalitasnya agar bisa bersaing dalam dunianya sebagai penari perkolong-kolong.

Macam-macam Pelaku Tari Komunal

Dengan dilatarbelakangi adat kebiasaan, atau norma-norma yang berlaku di suatu daerah, dan juga bentuk dari tariannya sendiri, pelaku tari komunal bisa bermacam-macam.

Sebagai contoh ada tari komunal yang dibatasi hanya boleh dilakukan oleh gadis-gadis yang belum menginjak fase menstruasi. Hal ini sebagaimana yang berlaku dalam sebuah tarian dari Bali yaitu tari Sanghyang Dedari. Ada juga yang hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang punya kekuatan magis seperti pada tari komunal Dabuih dari Sumatra Barat. Atau tari Seblang dari Banyuwangi yang perlu didampingi oleh seorang berkemampuan khusus.

Atau untuk tarian yang dilakukan oleh orang banyak ada norma-norma yang membatasi interaksi antara laki-laki dan perempuan seperti pada tari Saman di Aceh. Ada juga tari Baris Gede di Bali atau tari Perang di Nias yang hanya dilakukan oleh kaum laki-laki. Bahkan ada juga yang harus dilakukan oleh waria seperti dalam tari Bissu dari Bugis yang dilatarbelakangi oleh tradisi trasvestite-nya (laki-laki yang berperan sebagai perempuan).

Kelahiran dan Perkembangan Tari Komunal

Pada umumnya kelahiran suatu tari komunal dimaksudkan untuk tujuan ritual / upacara tertentu. Seperti tari Tortor dari Batak, atau tari Hudoq dari Dayak. Namun dalam perkembangannya ada juga yang lahir sebagai reaksi terhadap kondisi tertentu seperti tari Rudat di beberapa daerah di Jawa yang lahir dari lingkungan mesjid atau pesantren sebagai reaksi terhadap kehadiran kolonialis Belanda.

Di beberapa daerah ada sejenis tari komunal yang beralih fungsi dari media upacara adat menjadi media hiburan. Tari ini memposisikan penari perempuan sebagai penghibur. Namun di Bayuwangi ada juga tarian sejenis yang masih dilestarikan sebagai upacara adat. Tarian tersebut adalah Tari Gandrung.

Dan pada umumnya saat ini telah banyak tari komunal yang beralih fungsi menjadi media hiburan ketika tarian ini ditampilkan dalam acara-acara seperti pernikahan, perpisahan, kenaikan kelas, khitanan dan sebagainya. Atau ketika tari komunal dari daerah tertentu ditampilkan di daerah lain yang berbeda latar belakang budayanya.

Dan manakala tarian dipandang sebagai karya seni pertunjukan atau tontonan semata, maka diperlukan bakat, intensitas, dan keseriusan berlatih secara khusus.

Istilah-istilah untuk menunjuk makna Tari dan Penari

- Igel atau Solah di Bali, penarinya disebut Pragina.

- Dalang yang bagi masyarakat Cirebon berarti penari

- Joget, taya, beksa yang berarti tari di Jawa Tengah

- Jaga yang berarti tari di masyarakat Bugis.

- Dance / dansa dari bahasa Inggris

Elemen-elemen Utama Tari

- Tubuh

Sebagai salah satu elemen utama dalam tari, tubuh mempunyai substansi utama yaitu gerakannya. Karena tarian adalah salah satu cabang seni yang mengandalkan keindahan gerak. Dalam melihat unsur tubuh sebagai medium tari, ada bagian yang kasat mata ada juga yang tidak kasat mata seperti otot dan darah.

- Ruang (Ruang positif dan Ruang Negatif)

- Imaji Dinamis

Di dalam tari, aspek-aspek ruang yang menimbulkan imaji dinamis bisa dilihat dari hal-hal berikut ini :

- Dari ketinggian atau level gerakan penari

- Dari arah hadap atau arah pandang penari

- Dari volume atau ukuran ruang gerak

- Dari arah gerakan penari

Dan dinamika dalam tari tidak selalu tercipta karena bergerak-geraknya si penari, hal ini terbukti dalam tari Pakarena dari Sulawesi Selatan.

- Energi (tenaga/kekuatan/stamina dalam menari)

- Waktu (menyangkut durasi, irama, dan tempo tarian)

Karakter-karakter dalam Tarian

- Serius / khidmat

- Riang dan Komikal

- Kombinasi Serius, Riang dan Komikal

Tempat Pertunjukan Tari

- Menetap : seperti tari kecak, saman, dsb.

- Berpindah : seperti tari barong pengamen.

Bergerak : seperti pawai, ondel-ondel, ogoh-ogoh, dsb.

RESUME MATERI PEMBAHASAN ALAT MUSIK DAWAI

Pengantar Alat Musik Dawai

Alat musik dawai merupakan salah satu jenis alat musik yang terdapat di hampir seluruh penjuru dunia. Dalam pengelompokan menurut Kurt Sach dan Von Hornbostel alat musik dawai dikenal dengan istilah Kordofon (chord = tali/senar/dawai) artinya alat musik yang sumber bunyinya berasal dari getaran dawai.

Alat musik ini bentuknya beraneka ragam di setiap daerah dengan namanya masing-masing. Terkadang ada kesamaan bentuk tapi namanya berbeda seperti alat musik Al-’Ud dari Arab yang bentuknya mirip dengan alat musik Gambus dari Palembang. Atau alat musik Hitek di Flores yang bentuknya mirip dengan Keteng-keteng dari Karo.

Atau dari segi penamaan banyak kemiripan meskipun bentuknya berbeda. Seperti alat musik hasapi, kulcapi, dan husapi di Sumut, sape dan sampeq di Kalimantan, kacapi di Sunda, kacaping dan katapi di Sulawesi, dan sebagainya. Bahkan di negeri Persia terdapat alat musik dutar dan sehtar. Keduanya sama-sama alat musik dawai. Perbedaannya yang paling utama terletak pada jumlah dawainya (du = dua dan seh = empat). Keduanya juga dilihat dari namanya ada hubungan dengan nama alat musik seperti guitar, gitar, siter, atau alat musik di Italia pada abad ke-19 yang disebut chittara.

Alat musik dawai banyak digunakan dalam aktivitas-aktivitas budaya di berbagai lingkungan masyarakat di seluruh dunia, baik dalam budaya tradisional maupun modern. Seperti di masyarakat Jepang ada sebuah tarian yang disebut “Azuma Asobi” yang dilakukan dalam sebuah upacara adat. Tarian ini biasa diiringi alat musik dawai siter wagon yang juga disebut Yamato-goto. Atau di Nusantara ada alat musik engkratong yang merupakan salah satu jenis alat musik dawai bersejarah yang pernah dipakai masyarakat Murut dan Iban yang berada di pulau Kalimantan.

Penyebaran alat musik dawai juga tidak bisa dipisahkan dari kaitannya dengan aktivitas keagamaan dan penyebarannya. Seperti kalau kita mendengar alat musik gambus maka alat itu lebih dekat jika diasosiasikan dengan misi Islam. Berbeda dengan organ yang lebih dekat jika dikaitkan dengan gereja / Kristen.

Akustika Alat Musik Dawai

Alat musik dawai sebagaimana alat musik lainnya terutama dalam proses pembentukan suara memiliki hubungan erat dengan ilmu akustika. Dalam dunia musik, ilmu akustika berkaitan erat dengan bagaimana merancang dan menyusun struktur alat musik, cara memainkannya dan cara memanipulasi suara dengan tehnik-tehnik tertentu.

Di dalam proses pembentukan suara alat musik dawai, dikenal juga proses amplifikasi. Proses amplifikasi merupakan proses penguatan bunyi dengan tehnik atau alat tertentu. Ada amplifikasi dengan tehnik resonansi di mana pada alat musik dawai, ketika dawai bergetar ada benda lain (resonator) yang juga ikut bergetar sehingga energi bunyi yang dihasilkan lebih kuat dan lebih keras terdengan oleh indera pendengar manusia. Di samping itu ada juga amplifikasi yang menggunakan alat listrik seperti amplifier.

Resonator pada alat musik dawai pada umumnya berupa rongga udara yang terdapat pada badan alat musik dawai. Perhatikan alat musik seperti gitar, biola, kecapi dan sebagainya yang masing-masing memiliki rongga udara dengan bentuknya masing-masing. Ada juga alat musik dawai yang resonatornya berupa rongga mulut seperti ”busur musikal” dari Afrika atau Brazil.

Keterangan :

A = Dawai / Senar B = Jembatan / Bridge C = Papan Resonator D = Busur


Bila dawai (A) dipetik maka akan bergetar, getaran itu kemudian merambat melalui jembatan suara (B) menuju ke papan resonator (C) sehingga ia ikut bergetar dan menambah kerasnya bunyi yang dihasilkan. Tapi bunyi yang dihasilkan tidak akan keras lagi jika busur (D) diangkat karena yang bergetar tinggal dawai itu sendiri dan busurnya.

Jembatan Suara (bridge)

Dalam alat musik dawai, jembatan suara ini berperan penting dalam merambatkan getaran dawai menuju resonator. Secara umum semua alat musik dawai memiliki jembatan suara, kecuali pada alat Busur Dawai dari Afrika / Brazil yang resonatornya menggunakan rongga mulut.

Ada beberapa istilah untuk menyebut jembatan suara ini, di antaranya : kuda-kuda, tumpang sari, inang, (di daerah Sunda) srenten (di Jawa), dan sebagainya.

Bahan baku, bentuk, dan ukuran jembatan suara ini pun bervariasi. Pada umumnya jembatan suara dibuat tipis atau runcing pada bagian yang bersentuhan dengan dawai agar suara yang dihasilkan lebih jelas dan mulus, tapi ada juga beberapa alat musik dawai seperti dari India yang pada bagian itu dibuat lebar, baik pipih maupun cembung. Hal ini dimaksud kan untuk memunculkan nada harmonik yang berasal dari gesekan friksi antara dawai dan jembatannya.

Dalam alat-alat musik dawai yang pada setiap senarnya ketika dimainkan bisa dilakukan perubahan nada, fungsi jembatan ini diperankan juga oleh batas-batas pemisah nada pada papan jari yang dikenal dengan istilah fret. Beberapa instrumen dawai ada yang memiliki fret (fretted) seperti pada gitar ada juga yang tidak memiliki fret (unfretted/fretless) seperti pada biola, cello, dsb. Instrumen dawai yang memiliki fret menghasilkan bunyi yang stabil dan akurat. Berbeda dengan yang fretless di mana bunyinya lebih fleksibel dan berayun, bergantung pada ketajaman sense of tone pemain musiknya.

Fisika Bunyi pada Alat Musik Dawai

Untuk mempelajari proses pembentukan bunyi pada alat musik dawai kita perlu mengingat kembali pelajaran IPA di SMP tentang Fisika Bunyi. Ada beberapa prinsip utama dalam fisika bunyi di antaranya yang berkaitan dengan pembentukan gelombang. Busur Dawai bisa dijadikan media paling sederhana dalam mempelajari tentang pembentukan gelombang ini.








Di dalam fisika bunyi ini berlaku prinsip-prinsip sebagai berikut :

- Keras dan lemahnya bunyi ditentukan oleh lebar getaran (amplitudo)

- Tinggi rendahnya nada ditentukan oleh frekuensi (jumlah getaran per detik)

- Pada alat musik dawai amplitudo ditentukan oleh keras-lemahnya petikan pada dawai, sementara frekuensinya ditentukan oleh panjang-pendeknya dawai dan besar-kecilnya ukuran diameter dawai.

Bahan baku dawai juga berpengaruh pada frekuensi meskipun tidak begitu besar. Hanya yang pasti perbedaan bahan baku ini sangat berpengaruh pada aspek warna suara (Timbre) yang dihasilkan. Suara dawai yang terbuat dari baja, timbre-nya akan berbeda dengan dawai yang terbuat dari nilon meskipun frekuensi yang dibunyikan sama. Hal ini sama halnya dengan perbedaan warna suara (timbre) pada alat-alat musik seperti piano, gitar, biola, terompet, seruling dan sebagainya pada saat alat-alat musik itu membunyikan nada yang sama.









Klasifikasi Alat Musik Dawai

Dalam dunia musik dikenal berbagai macam pengelompokan alat musik. Pengelompokan ini didasarkan pada bervariasinya aspek yang dijadikan dasar pengelompokan. Ada yang mengelompokkan berdasarkan bentuk, bahan baku, sumber bunyi dsb. Seperti dalam tradisi musik klasik Barat dikenal klasifikasi alat musik stringed instruments (instrumen berdawai), percussion

instruments (instrumen ritmis), dan wind instruments (instrumen tiup).

Pengelompokan yang cukup terkenal adalah pengelompokan yang dilakukan oleh Kurt Sach dan Von Hornbostel yang mengelompokkan alat musik berdasarkan sumber bunyinya sebagai berikut :

1. Chordophone = dari getaran dawai (chord)

2. Membranophone = dari getaran selaput kulit / plastik

3. Aerophone = dari getaran udara

4. Idiophone = dari getaran badan alat itu sendiri

5. Elektrophone = dari energi listrik.

Di samping kelima kelompok di atas, untuk beberapa kasus seperti alat musik hitek dari Flores atau Keteng-keteng dari Karo, kedua alat musik ini merupakan kombinasi dari dua klasifikasi yaitu Idiophone dan Chordophone. Sehingga muncul istilah Idiochord karena alat musik ini sumber bunyinya adalah getaran dawai yang mana dawai itu sendiri berasal dari badan alat musik itu.

Kurt Sach dan Von Hornbostel pun mengelompokan alat musik dawai (chordophone) berdasarkan karakteristik bentuknya menjadi 5 (lima) kelompok yaitu :

1. Kelompok Busur

2. Kelompok Lira

3. Kelompok Harpa

4. Kelompok Lut

5. Kelompok Siter

Jenis busur pada umumnya ditandai dengan kedua ujung dawai yang diikatkan pada kedua titik ujung penyanggah. Akibat tarikan dari regangan dawai, kedua ujung penyanggah yang lentur membentuk lengkungan busur.

Jenis lira dan harpa, pada prinsipnya ditandai hubungan antara posisi dawai dan kotak suaranya. Untuk jenis lira posisi dawai sejajar dengan sebagian permukaan kotak suaranya. Adapun untuk jenis harpa posisi dawai tegak lurus terhadap kotak suara.

Jenis lut dan siter, pada prinsipnya ditandai dengan sama-sama memiliki kotak suara dan posisi dawai yang sepenuhnya sejajar dengan permukaan kotak suara. Perbedaannya kalau jenis lut memiliki leher (neck) yang berfungsi sebagai papan jari (finger board) atau penyangga dawai (string bearer), sementara jenis siter tidak memiliki leher.

Karakteristik alat musik dawai secara umum bisa digolongkan pada salah satu dari lima kelompok di atas. Kecuali untuk alat musik Kora dari Afrika yang karakteristik bentuknya bisa masuk jenis harpa dan bisa juga masuk jenis lut. Oleh sebab itu alat musik ini dikenal juga sebagai alat musik harp-lut.

Jumlah Senar pada Alat Musik Dawai

Alat Musik Dawai Dunia

Nama Alat Musik

Jumlah Dawai

Dan Bao Vietnam

1 buah

Shamisen Jepang

3 buah

Sehtar Persia

4 buah

Sitar India

6, 7, 13 buah

Kora Afrika

21 buah

Alat Musik Dawai Nusantara

Nama Alat Musik

Jumlah Dawai

Hasapi Toba, Kulcapi Karo,

2 buah

Rebab Jawa / Sunda

2 buah

Gambus Melayu

7 buah

Kecapi Sunda

15 – 18 buah

Sasando NTT

9, 10, 11, 24, 48 buah

Di samping jumlah dawai yang bervariasi, karakteristik lain dari alat musik dawai adalah dalam hal kombinasi dawainya. Ada yang dawai tunggal seperti pada kecapi, dawai ganda seperti pada gambus dan al-'Ud, ada juga dawai tripel seperti pada piano dan saz dari Turki.

Dalam alat musik dawai pun dikenal adanya dawai simpatetik yaitu dawai yang sengaja dipasang tidak untuk digetarkan secara langsung tetapi akan ikut bergetar ketika dawai utama dibunyikan. Alat musik berdawai simpatetik ini contohnya seperti Sitar dari India

Selanjutnya berkaitan dengan nada-nada yang dihasilkan dalam alat musik dawai, nada tersebut pada umumnya merupakan nada yang bunyinya paling kuat (fundamental). Sementara nada-nada lain yang bunyinya lebih lemah disebut dengan anak suara atau nada harmonik.

Dalam alat musik dawai tertentu seperti Tanpura dari India, dikenal juga nada drone, yaitu nada yang dibunyikan secara terus-menerus dan dipertahankan sampai lama, baik hanya satu nada maupun beberapa nada.

Pelarasan pada Alat Musik Dawai

Pelarasan merupakan satu cara untuk mengatur bagaimana nada-nada dalam alat musik ditentukan / distel susunannya. Istilah lain untuk pelarasan adalah "penyeteman" seperti yang biasa dilakukan pada gitar.

Pada alat musik dawai pelarasan ini bisa dilakukan dengan mengatur ketegangan dawai melalui bagian pengatur pelarasannya seperti jembatan suara atau kupingan (tunning pegs). Seperti pada gitar dilakukan dengan memutar-mutar bagian kupingannya, pada kecapi dengan menggeser-geser tumpang sari-nya di samping memutar-mutar tunning pegsnya. Atau pada alat musik Kora yang dilakukan dengan cara menggeser-geser tali pengikat dawainya.

Dengan pelarasan ini maka alat musik dawai dapat dimainkan sesuai dengan karakteristik harmoni tangga nada alat tersebut.

SB.........SB.. kacian de loe !!!!